Sungai Lamandau Surut, Batu Beturus Bersejarah Muncul

Dok : Istimewa

Kaltengpedia.com – Permukaan Sungai Lamandau yang surut di wilayah RT 1, Desa Kotawaringin Hilir, Kecamatan Kotawaringin Lama, Kabupaten Kotawaringin Barat, menyingkap Batu Beturus yang memiliki nilai sejarah bagi masyarakat setempat. Batu tersebut kembali terlihat ketika debit sungai menurun pada Jumat (25/9/2026) dan disebut berkaitan dengan lokasi pemandian raja pada masa lalu.

Camat Kotawaringin Lama Trias Agung Wibowo, Jumat (25/9/2026), mengatakan Batu Beturus merupakan salah satu bagian dari sejarah kawasan Kotawaringin Lama. Menurut dia, keberadaan batu tersebut berkaitan dengan sejarah keluarga Astana Al-Nursari serta perkembangan kehidupan masyarakat di sekitar Masjid Kyai Gede. Ia juga meluruskan informasi yang menyebut Batu Beturus sebagai candi.

Trias menjelaskan, Batu Beturus bukan merupakan candi. Situs tersebut berkaitan dengan tatanan adat dan syariat Islam yang masih dijaga oleh keluarga Astana Al-Nursari. Letaknya berada di sekitar kawasan Masjid Kyai Gede yang menjadi salah satu lokasi penting dalam sejarah perkembangan masyarakat di Kotawaringin Lama.

Berdasarkan cerita dan sejarah yang berkembang di masyarakat setempat, kawasan tepian Sungai Lamandau tersebut pernah digunakan sebagai tempat pemandian raja. Keberadaan sungai memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat pada masa lalu, termasuk sebagai jalur aktivitas pemerintahan, perdagangan, serta kehidupan sosial masyarakat di kawasan Kotawaringin Lama.

Kemunculan Batu Beturus Kotawaringin Lama saat air sungai surut menjadi fenomena yang kembali memperlihatkan bagian situs yang biasanya tertutup permukaan air. Batu tersebut berada di tepian Sungai Lamandau sehingga tingkat kemunculannya sangat dipengaruhi oleh kondisi debit air. Ketika permukaan sungai naik, bagian batu kembali tertutup dan sulit terlihat dari tepian.

Pada Jumat (25/9/2026) sore, permukaan Sungai Lamandau mulai kembali naik. Kondisi tersebut membuat bagian Batu Beturus yang sebelumnya terlihat perlahan kembali tertutup air. Fenomena ini menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk melihat kembali situs bersejarah tersebut, sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga kawasan yang memiliki nilai sejarah dan budaya bagi Kotawaringin Lama.

Pos terkait