Kaltengpedia.com – Hotspot Kalteng mengalami penurunan, tetapi risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) belum ikut mereda. Kondisi bahan bakar di permukaan yang semakin kering membuat api masih berpotensi cepat menjalar apabila kembali muncul titik kebakaran.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBPK) Kalteng per 29 September 2026, tercatat 2.393 titik panas dalam periode 24 jam. Pada periode yang sama, terdapat 65 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar mencapai 86,31 hektare.
Kepala Pelaksana BPBPK Kalteng Ahmad Toyib mengatakan analisis parameter cuaca BMKG pada 29-30 September menunjukkan sebagian besar wilayah Kalteng berada dalam kategori sangat tinggi atau sangat mudah terbakar. Kondisi tersebut terlihat dari meluasnya zona merah pada peta Fine Fuel Moisture Code (FFMC).
Artinya, penurunan hotspot Kalteng belum otomatis menghilangkan ancaman kebakaran. Bahan bakar seperti alang-alang, semak, dan dedaunan yang mengering masih mudah terbakar. Jika muncul api baru, kondisi tersebut dapat mempercepat penyebaran kebakaran di lahan.
Ancaman juga masih terlihat dari kondisi udara di sejumlah wilayah. Pada 29 September 2026 pukul 15.00 WIB, jarak pandang di Palangka Raya tercatat sekitar 0,2 kilometer. Sementara jarak pandang di Sampit dan Muara Teweh masing-masing sekitar 0,7 kilometer. Pangkalan Bun dan Buntok juga dilaporkan berada dalam kondisi berasap dengan jarak pandang sekitar 1,3 kilometer.
BMKG masih memprakirakan hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang pada 29 September hingga 1 Oktober 2026 di sejumlah wilayah Kalteng. Namun, pada 2-5 Oktober 2026, tidak ada wilayah Kalteng yang diprakirakan berpotensi mengalami hujan.
Kondisi tersebut membuat kewaspadaan terhadap karhutla tetap diperlukan. Pemerintah dan tim gabungan masih melakukan pemantauan serta penanganan titik api di berbagai wilayah. Masyarakat juga diminta tidak melakukan pembakaran lahan karena kondisi permukaan yang kering dapat membuat api lebih sulit dikendalikan.
Jadi, meski hotspot Kalteng turun, ancaman belum dapat dianggap selesai. Penurunan titik panas perlu diikuti dengan kewaspadaan dan pencegahan agar kebakaran baru tidak kembali meluas.





















