Zaskia Adya Mecca Menangis Lihat Perjuangan Relawan Karhutla Kalteng, 4 Bulan Berjuang dengan Keterbatasan

zaskia-adya-mecca-1-020824

Kaltengpedia.com – 20 Oktober 2026, Artis Zaskia Adya Mecca tak kuasa menahan tangis saat melihat langsung kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah. Ia mengaku terpukul menyaksikan perjuangan para relawan yang telah berbulan-bulan berupaya memadamkan api di tengah keterbatasan.

Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Zaskia memperlihatkan kondisi kabut asap yang menyelimuti Kota Palangka Raya. Ia mengungkapkan bahwa situasi di lapangan terasa begitu berat, terlebih masyarakat harus menghadapi kondisi tersebut selama kurang lebih empat bulan.

Zaskia mengaku kunjungan langsung ke lokasi membuatnya semakin memahami besarnya tantangan yang dihadapi warga. Menurutnya, kondisi yang terlihat saat itu bahkan disebut lebih baik dibandingkan pekan sebelumnya, tetapi kualitas udara masih terasa sangat mengganggu.

Ia juga menyoroti keadaan masyarakat yang tidak memiliki banyak pilihan untuk menghindari paparan asap. Berbeda dengan orang yang dapat berpindah ke tempat lain, warga yang tinggal di wilayah terdampak harus tetap menjalani aktivitas sehari-hari di tengah kondisi lingkungan yang belum membaik.

Kedatangan Zaskia ke Kalimantan merupakan bagian dari upayanya membantu masyarakat yang terdampak karhutla. Sebelum menuju Palangka Raya, ia terlebih dahulu mengunjungi sejumlah posko relawan di Kalimantan Selatan untuk melihat kondisi di lapangan sekaligus mengetahui kebutuhan yang mendesak.

Di lokasi yang dikunjunginya, Zaskia mendengar cerita mengenai perjuangan relawan mandiri yang berupaya memadamkan kebakaran dengan biaya sendiri. Mereka harus menyisihkan uang pribadi untuk membeli bahan bakar mesin pompa air, meskipun kondisi ekonomi mereka juga terbatas.

Dalam keterangannya, Zaskia mengungkapkan bahwa para relawan bahkan patungan mulai dari Rp10 ribu, Rp15 ribu, hingga Rp20 ribu untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar. Dana tersebut digunakan agar peralatan pemadaman tetap dapat beroperasi dan api tidak meluas hingga ke permukiman warga.

Keadaan semakin memprihatinkan karena sejumlah relawan belum memiliki alat pelindung diri (APD) yang memadai. Padahal, mereka harus berhadapan langsung dengan asap dan kondisi lapangan yang berisiko saat menjalankan upaya pemadaman.

Zaskia mengaku tersentuh melihat semangat para relawan yang terus bekerja secara sukarela tanpa menerima gaji. Di tengah keterbatasan biaya dan perlengkapan, mereka tetap berupaya menjaga lingkungan serta mencegah api menjalar ke kawasan tempat tinggal masyarakat.

Menurutnya, melihat satu titik kebakaran saja sudah cukup berat secara emosional. Ia membayangkan betapa sulitnya perjuangan para relawan yang harus menghadapi kebakaran selama berbulan-bulan, terlebih di wilayah Palangka Raya yang juga mengalami persoalan karhutla serius.

Kehadiran Zaskia di lokasi tidak hanya untuk melihat kondisi kebakaran secara langsung, tetapi juga membantu menyalurkan bantuan sesuai kebutuhan masyarakat dan relawan. Ketersediaan perlengkapan keselamatan serta dukungan operasional menjadi perhatian dalam upaya membantu mereka yang bertugas di lapangan.

Melalui pengalamannya tersebut, Zaskia turut memperlihatkan bahwa penanganan karhutla bukan hanya berkaitan dengan pemadaman api, tetapi juga menyangkut keselamatan relawan dan kesehatan masyarakat yang terpapar kabut asap.

Perjuangan para relawan yang telah berlangsung selama berbulan-bulan menjadi pengingat pentingnya dukungan berbagai pihak dalam menghadapi karhutla di Kalimantan Tengah. Bantuan perlengkapan, biaya operasional, dan perhatian terhadap kondisi warga diperlukan agar upaya pemadaman serta perlindungan masyarakat dapat berjalan lebih optimal.