Mengapa 495 Warga Teluk Pulai Butuh Dua Hari ke Kumai Akibat Karhutla?

images (53)

Dok : Istimewa

Kaltengpedia.com – dampak karhutla Teluk Pulai di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah (Kalteng), dirasakan oleh 495 warga Desa Teluk Pulai, Kecamatan Kumai. Kebakaran di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) turut memperburuk akses transportasi warga. Perjalanan menuju pusat Kecamatan Kumai yang biasanya hanya sekitar satu jam kini dapat memakan waktu hingga dua hari.

Kepala Desa Teluk Pulai, Herliyus Cristian, mengatakan kabut asap akibat kebakaran mengganggu perjalanan melalui jalur laut. Kondisi gelombang yang kurang bersahabat turut memperparah kesulitan warga yang mengandalkan transportasi air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan menjangkau pusat pemerintahan. Situasi tersebut membuat mobilitas masyarakat semakin terbatas di tengah kebakaran yang masih berlangsung di kawasan taman nasional.

Herliyus menyebut salah satu solusi jangka panjang yang dapat dipertimbangkan adalah pembangunan akses jalan darat yang menghubungkan Desa Teluk Pulai dengan Desa Sekonyer. Jarak kedua desa diperkirakan sekitar lima kilometer. Ia berharap pemerintah dan pengelola TNTP dapat mengkaji usulan tersebut agar masyarakat memiliki alternatif akses ketika kabut asap dan gelombang laut menghambat perjalanan. Namun, rencana itu perlu mempertimbangkan fungsi konservasi taman nasional dan ketentuan lingkungan yang berlaku.

Di tengah kesulitan akses tersebut, warga juga menghadapi ancaman api yang mendekati permukiman. Titik kebakaran di sekitar Sungai Buluh Kecil dilaporkan berjarak sekitar empat kilometer dari Desa Teluk Pulai. Sebanyak 60 personel Masyarakat Peduli Api (MPA) desa bersama lima personel Polsek Kumai dan tim KTPA PT ASMR dari BGA Group dikerahkan untuk membantu pemadaman. Kebakaran juga dilaporkan terjadi di kawasan Sungai Buluh Besar dan Sungai Sekonyer.

Kebakaran di kawasan TNTP tidak hanya mengancam keselamatan warga, tetapi juga berpotensi berdampak pada ekosistem rawa gambut dan habitat satwa liar, termasuk orang utan dan bekantan. Sungai Sekonyer juga menjadi salah satu jalur transportasi air menuju kawasan konservasi dan rehabilitasi orang utan. Karena itu, upaya pemadaman diperlukan untuk mencegah api meluas, sekaligus melindungi masyarakat desa penyangga dan kelestarian lingkungan Taman Nasional Tanjung Puting.