21 Ribu Hotspot Kepung Kobar, Sampai Kapan Pangkalan Bun Dijejali Asap Pekat?
Dok : Istimewa
Kaltengpedia.com – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, berada dalam kondisi kian mengkhawatirkan. Hingga Kamis (8/10/2026), tercatat sebanyak 21.369 titik panas (hotspot) dengan total luasan lahan terbakar mencapai 2.798,33 hektare.
Ancaman karhutla diprediksi masih akan bertahan hingga November mendatang. Upaya penanganan terus dilakukan oleh Satgas Gabungan, namun kobaran api berulang kali menyala di kawasan tanah gambut tebal yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
Bupati Kotawaringin Barat sekaligus Komandan Satgas Karhutla Kobar, Nurhidayah, mengungkapkan bahwa pemerintah daerah telah memperpanjang status tanggap darurat karhutla sebanyak empat kali guna memaksimalkan penanganan di lapangan.
Beberapa wilayah yang menjadi titik fokus penanganan meliputi Kecamatan Arut Selatan, Kumai, dan Kotawaringin Lama. Lokasi paling kritis berada di sepanjang ruas Jalan Pangkalan Bun–Kotawaringin Lama, khususnya dari Kilometer 8 hingga Kilometer 29. Tim gabungan bersama relawan terus berjibaku menahan laju sebaran api.
“Puncak karhutla di Kobar terjadi sejak Juli, Agustus hingga sekarang. Rata-rata muncul 200 sampai 300 titik api setiap harinya. Kebakaran terbaru di KM 8–10 Jalan Kotawaringin Lama berdampak langsung pada munculnya asap pekat yang menyelimuti wilayah Kota Pangkalan Bun sejak pagi,” kata Nurhidayah, Jumat (9/10/2026).
Tantangan utama pemadaman terletak pada karakteristik lahan gambut tebal yang kawasannya berada jauh dari akses jalan utama. Kondisi geografis ini menyulitkan armada mobil pemadam kebakaran untuk mendekati titik api. Akibatnya, bara di bawah permukaan tanah kerap kembali menyala sehari setelah pemadaman darat dilakukan.
Melihat kendala tersebut, Pemkab Kobar menegaskan pentingnya percepatan dukungan operasi pemadaman dari udara melalui metode penyiraman air (water bombing). Bantuan armada udara dinilai menjadi kunci vital untuk menjangkau titik-titik kebakaran di kedalaman lahan gambut.
Pemerintah daerah mengimbau seluruh pihak untuk memperkuat sinergi penanganan agar perluasan lahan terbakar dapat ditekan, sekaligus meminimalkan dampak buruk kabut asap terhadap kesehatan masyarakat.
