Kaltengpedia – Belajar bisa di mana saja dan dengan siapa saja. Di Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, sekelompok anak muda menggelar terpal di bawah Jembatan Kahayan, menyajikan materi ajar yang mungkin tidak diajarkan di sekolah untuk anak-anak.
Hujan baru saja reda, Minggu (2/7/2023) sore, di Kota Palangkaraya. Sekelompok sukarelawan Sekolah Rakyat Kalteng tiba di bawah Jembatan Kahayan, lalu menyiapkan perlengkapan, mulai dari terpal hingga materi ajarnya. Beberapa anak usia dini yang sudah menunggu sejak beberapa saat langsung berkumpul.
Sore itu, para sukarelawan ajar mengambil tema ”Kebersihan = Lingkungan Sehat”. Sore itu terdapat 13 anak yang datang. Mereka berusia 3-9 tahun. Beberapa di antaranya merupakan wajah lama yang ikut Sekolah Rakyat sejak April lalu.
Nurul Sufika, salah seorang sukarelawan, membagikan kertas dengan gambar yang siap diwarnai. Para sukarelawan juga menyiapkan alat gambar, mulai dari krayon sampai pensil warna.
Gambar-gambar yang dibagikan itu disesuaikan dengan tema. Ada gambar anak-anak yang sedang menyikat gigi, gambar anak yang membuang sampah pada tempatnya, dan banyak lagi.
Setiap anak yang mewarnai didampingi oleh sukarelawan. Mereka duduk berkelompok meski ada saja anak yang ingin duduk sendiri di sudut terpal, tak ingin orang-orang melihat gambarnya.

Sambil anak-anak duduk mewarnai gambar, para pendamping menjelaskan isi gambar. Nurul mendampingi Niki (4), anak yang memilih gambar tentang membuang sampah. Di kertas itu terdapat gambar seorang anak yang membuang sampah ke tempat sampah.
”Coba Niki lihat di sini ada tempat sampah gak? Nah, yuk, nanti sampahnya dibuang di situ,” ujar Nurul.
Niki tidak banyak menjawab, tapi tangannya ulet mewarnai. Setelah selesai mewarnai, anak-anak yang sebelumnya diberi camilan mulai mengambil bungkus makanan itu lalu membuangnya di tempat sampah, seperti gambar yang mereka warnai.
Di kelompok lain, Chandra Dwi Cahyo (23), salah seorang sukarelawan, mendampingi anak yang memilih gambar kebersihan diri. Sambil memperhatikan si anak mewarnai, Chandra mencoba menggali pengetahuan si anak tentang kebersihan diri. Mulai dari kebiasaan mandi hingga menyikat gigi. Hampir seperti anak lain, anak yang didampingi Chandra tak banyak merespons dan asyik mewarnai. Meski demikian, anak itu kerap mengangguk tanda paham.
Chandra kemudian melihat beberapa anak yang menonton dari atas tangga dekat jembatan dan menghampiri mereka. Ia mencoba mengajak anak-anak itu bergabung. Beberapa dari mereka malah kabur, sebagian lagi hanya mengangguk.
”Sekolah Rakyat ini mencoba memberikan materi yang mungkin tidak selalu didapat di sekolah formal mereka. Tentunya (pembelajaran) sambil bermain, supaya mereka nyaman,” kata Chandra.
Setiap anak selalu diantar dan dijaga orangtua mereka. Para sukarelawan juga selalu meminta izin orangtua atau orang yang mengantar mereka ke tempat itu sebelum memulai aktivitas. Beberapa orangtua bahkan menjadi langganan mengantarkan anaknya setiap Minggu pukul 15.00.
Nurul dan Chandra adalah dua dari belasan sukarelawan yang aktif membantu mengajar. Uniknya, mereka datang dari berbagai latar belakang. Chandra, misalnya, di tengah kesibukannya bekerja di Angkasa Pura II Bandara Tjilik Riwut, hampir tiap minggu ia sempatkan untuk mengajar dan bermain di Sekolah Rakyat. Begitu juga Nurul yang kesehariannya bekerja sebagai barista. Namun, gerakan itu awalnya diinisiasi oleh Wira Surya Wibawa yang saat ini bekerja di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Palangkaraya.
”Kalau sukarelawan ada yang perawat, arsitektur, dan berbagai latar belakang. Mereka semua sempatkan waktu untuk gerakan sosial ini,” ungkap Wira.
Wira menyebarkan gagasannya itu lewat berbagai cara sehingga banyak anak mengikuti Sekolah Rakyat yang ia gagas. Ia bahkan tak segan-segan mengajak anak-anak yang ia lihat beraktivitas di jalan.
Putus sekolah
Gagasan awal Wira sebagai inisiator, Sekolah Rakyat ini bisa menjangkau anak-anak pinggir kota yang belum semua bisa mengakses pendidikan formal dengan berbagai alasan.
Semuanya bermula saat Wira berjumpa dengan Andri (7), Dion (8), Saripah (7), dan Faisal (7). Empat anak itu ia temui di jalan sedang berjualan serabutan, mulai dari makanan ringan sampai selampai. Setelah ditelusuri, keempat anak itu putus sekolah karena orangtua mereka tak lagi membiayai mereka sekolah. Mereka mencari uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
”Mereka jadi tulang punggung. Saat kami telusuri, orangtua mereka itu sukanya berjudi dan pengguna narkoba. Karena berbagai alasan, mereka akhirnya mencari uang di jalan,” katanya.
Wira kemudian bertemu dengan keluarga keempat anak tersebut, lalu meminta izin untuk membantu anak-anak itu belajar. Meski awalnya ada penolakan, Wira akhirnya bisa membawa anak-anak itu untuk sekolah informal bersamanya. Ia kemudian membuat gerakan sosial untuk membantu anak-anak tersebut.
Anak-anak itu masih menjadi langganan Sekolah Rakyat meski sudah bisa menikmati bangku sekolah. Bagi Wira, anak usia sekolah punya hak untuk menikmati pendidikan.
Gerakan Sekolah Rakyat tak hanya dibuat di Kalteng, gerakan itu justru bermula di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, lalu sampai di Palangkaraya, ibu kota Kalteng. Tujuan awalnya menyasar anak putus sekolah sejalan dengan keadaan di Indonesia saat ini.
Menurut data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), pada tahun ajaran 2020/2021 ada sekitar 83.700 anak putus sekolah di seluruh Indonesia. Jumlah tersebut meliputi anak putus sekolah di tingkat SD, SMP, SMA, dan SMK baik negeri maupun swasta. Kalteng tidak masuk dalam kategori 10 provinsi dengan anak putus sekolah terbanyak.
Di Kota Palangkaraya, dari data Rencana Strategi Dinas Pendidikan Kota Palangkaraya (2018-2023), angka putus sekolah penduduk usia 7-12 tahun dan usia 13-15 tahun mencapai 0,070 dan 0,110. Hal itu menunjukkan masih terdapat anak-anak usia 7-12 tahun dan usia 13-15 tahun yang tidak bersekolah, baik karena belum pernah sekolah, putus sekolah, maupun tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.

Gerakan yang dilakukan Wira dan kawan-kawan mencoba membantu anak-anak yang putus sekolah dengan berbagai alasan tersebut. Mereka mencoba mengisi kekosongan yang seharusnya bisa diisi oleh pemerintah. Namun, karena peserta datang dari berbagai kalangan, baik yang tidak sekolah maupun sudah bersekolah, Wira mencoba berbagai tema.
Tema-tema yang diambil banyak berkaitan dengan kehidupan, mulai dari tema impian hingga tema lingkungan hidup. Tema-tema besar itu kemudian dihubungkan dengan kehidupan anak-anak usia dini hingga usia sekolah dasar. Media bermain jadi andalan mereka untuk bisa memberikan pemahaman pada anak.
”Kami melakukan permainan peran dan edukasi aktif secara rutin untuk meningkatkan kreativitas anak. Bermain secara berkelompok dapat membantu anak menumbuhkan kepercayaan diri dan belajar memengaruhi orang lain,” ujar Wira.
Bagi Wira dan kawan-kawan sukarelawan, pendidikan itu hak semua anak dan gratis. Harapan itu mungkin klise, tetapi selalu saja ada alasan anak-anak tak bisa mengenyam pendidikan. Bagi Wira, ketika ada kekosongan, maka saatnya rakyat bantu rakyat.






















