Lebih dari 600 Sumur Bor Dibangun, Pemprov Kalteng Salurkan 14 Juta Liter Air Bersih untuk Warga

29102026063518_2

Dok : Istimewa

Kaltengpedia.com – Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui pembangunan lebih dari 600 sumur bor serta distribusi air bersih yang telah mencapai lebih dari 14 juta liter. Langkah tersebut dilakukan untuk membantu masyarakat menghadapi dampak kekeringan dan kabut asap. Gubernur Kalteng Agustiar Sabran menyampaikan hal itu saat memimpin Rapat Koordinasi Pemantauan Penanganan Karhutla di Aula Serba Guna Rumah Jabatan Gubernur Kalteng, Kamis (29/10/2026). Dalam rapat tersebut, ia meminta seluruh unsur terkait memperkuat koordinasi, mengevaluasi penanganan di lapangan, serta memastikan kebutuhan dasar masyarakat terdampak terpenuhi.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalteng Ahmad Toyib melaporkan, hingga 28 Oktober 2026 tercatat 76 titik panas dan 26 kejadian karhutla dengan luas terbakar sekitar 43,93 hektare. Secara kumulatif sejak 1 Januari hingga 28 Oktober 2026, jumlahnya mencapai 371.692 titik panas dan 7.634 kejadian karhutla dengan total luas lahan terbakar 20.699 hektare. Penanganan kebakaran melibatkan 16.478 personel dari berbagai unsur, mulai BPBD, TNI-Polri, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, relawan hingga elemen masyarakat lainnya. Meski eskalasi kebakaran menurun dalam beberapa hari terakhir, patroli dan pemantauan tetap dilakukan untuk memastikan titik api tersisa segera ditangani.

Selain pemadaman, pemerintah juga memperluas perlindungan sosial bagi masyarakat terdampak. Berdasarkan laporan BPBD, bantuan pangan telah disiapkan untuk lebih dari 450.000 warga, disertai penyaluran obat-obatan, multivitamin, dan masker. Pemerintah turut memberikan dukungan operasional kepada petugas dan relawan, termasuk makanan, perlengkapan keselamatan, serta bahan bakar. Relawan yang direkrut dengan pembiayaan APBD maupun belanja tidak terduga juga mendapatkan honorarium harian Rp150.000, berikut dukungan konsumsi dan kebutuhan operasional. Gubernur menegaskan penanganan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman ketika api muncul, tetapi harus disertai pencegahan, pengawasan, evaluasi pemanfaatan lahan, dan penegakan hukum terhadap pihak yang terbukti melakukan pelanggaran.

Sementara itu, Kepala BMKG Provinsi Kalteng Agung Sudiono Abadi menjelaskan awal musim hujan berlangsung bertahap dan tidak merata di seluruh wilayah. BMKG memprakirakan curah hujan meningkat pada November, dengan puncak musim hujan diperkirakan berlangsung pada Desember hingga Januari. Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya menghilangkan risiko kebakaran karena api di lahan gambut dapat bertahan di bawah permukaan tanah meskipun bagian atasnya telah padam. Karena itu, Gubernur meminta koordinasi pemerintah daerah, TNI-Polri, perangkat teknis, dunia usaha, dan masyarakat terus diperkuat. Evaluasi tata ruang serta pemanfaatan lahan yang berulang kali terbakar juga perlu dilakukan dengan tetap memperhatikan ketentuan hukum dan perlindungan ekosistem gambut.