Kaltengpedia.com – Pada akhir tahun 1964, Mayor Benny Moerdani berusia 31 tahun. Dia masih bertugas di RPKAD. Saat itu, di atas pangkat Mayor hanya ada dua orang letnan kolonel dan seorang kolonel. Menghadapi kenyataan tersebut, Benny menyadari sulitnya naik pangkat dalam kesatuannya.
Pernah suatu ketika Benny berkeinginan menjadi Komandan Kodim di Pontianak. Agar tour of duty-nya menjadi lengkap. Meski besar hasratnya menjadi Komandan Kodim, keinginan tersebut justru dibatalkan sendiri.
“Sebagai seorang anggota ABRI yang mau tidak mau sudah disebut pahlawan karena memiliki penghargaan Bintang Sakti, tentu akan menjadi banyak sekali pertanyaan kalau mendadak saya mengantarkan keinginan menjadi perwira teritorial,” ucap Benny dalam buku Benny Moerdani Profil Prajurit Negarawan.
Tetapi Benny tidak menyerah begitu saja untuk meraih pangkat yang lebih tinggi. Berbagai macam pendidikan militer diikuti.
Dia juga telah mengikuti penugasan dalam pasukan tempur, menjadi pelatih dan guru dalam ilmu kemaritiman. Hanya tinggal satu bidang yang belum pernah dijalani Benny yaitu bidang teritorial yang dikenal dengan tour of duty.
Bertemu Jenderal Galak dan Tegas
Untuk mewujudkan keinginannya, Benny mendaftar kursus calon atase militer. Orang yang mengujinya waktu itu adalah Jenderal S. Parman. Semangat Benny tak kendor meskipun beredar rumor Jenderal S. Parman galak dan tegas.
Saat ujian, Benny merasa tenang. Berkas pendidikan militernya dibolak-balik Jenderal Parman. Dia tak khawatir lantaran nilainya memuaskan. Benny berusaha fokus menebak pertanyaan yang akan ditanyakan sang penguji.
“Kalau sudah jadi atase, akan pilih tugas di mana?” tanya Jenderal Parman
“Siap Pak, di China…” Jawab Benny cepat.
Jawaban Benny membuat Jenderal Parman kaget dan heran. Pasalnya, baru ada prajurit yang dengan lantangnya menjawab ingin tugas di China, biasanya prajurit ingin ditugaskan ke Jepang atau Inggris. Bukan China.
Benny punya alasan menjawab China. Ternyata karena Bahasa China merupakan bahasa resmi PBB. Jadi masyarakat yang berbahasa semacam itu tentu besar jumlahnya dan besar juga pengaruhnya.
Benny juga mengutip ucapan Napoleon Bonaparte. China ibarat rakyat raksasa tidur.
Tak Boleh Lajang
Lantaran jawabannya memuaskan dan meyakinkan, kurang dalam waktu tiga menit Benny dinyatakan lolos sebagai peserta kursus atase militer. Saat itu Benny satu angkatan dengan Letnan Kolonel Sugeng Djarot, Mayor Subyakto, Kolonel Alamsyah, dan Mayor Tjuk Setyohadi.
Sebelum meninggalkan ruangan ujian, Jenderal Parman membisikkan sebuah pesan kepada Benny. Isinya singkat.
“Rotasi penugasan di Peking China jauh lebih lama dibanding tempat lain. Di samping itu, gadis China terkenal cantik. Maka kalau nanti jadi dikirim ke sana, kau harus tak boleh bujangan lagi,” bisik Jenderal Parman. (nur)






















