Kaltengpedia.com – Kisah Asmara Benny Moerdani diawali dengan pertemuannya dengan seorang pramugari Garuda Indonesia pada pertengahan tahun 1956. Gadis yang berhasil memikat hatinya bernama Hartini. Gadis Jawa kelahiran Bandung, anak dari RM Djoko Sosrodihardjo pejabat Djawatan Kereta Api (DKA).
Pertemuan keduanya terjadi karena tidak sengaja. Mereka berkenalan ketika Benny singgah ke rumah kakaknya. Disaat yang sama adiknya yang bekerja sebagai pramugari juga datang membawa temannya.
Pertemuan pertama membuat mereka semakin akrab. Keakraban mereka didasari oleh kata-kata Hartini kepada Benny.
“Sejak kecil saya senang dengan sosok seorang militer. Militer itu selalu bisa bersikap lebih tegas dalam memutuskan segala sesuatu.” Ucap Hartini yang ditulis dalam buku Benny Moerdani Profil Prajurit Negarawan.
Harapan semacam itu tentu mudah ada di dalam sosok Benny. Seorang perwira muda dengan pendirian tegas, tidak banyak omong. Selalu mengayomi, bisa memberikan rasa aman, perlindungan kepada setiap orang yang dekat denganya.
Masa berpacaran mereka berlangsung sangat lama, hampir tujuh tahun bersama dalam suasana naik turun. Karena tuntutan tugas pekerjaan masing-masing, pertemuan keduanya tidak bisa sering dilakukan.
Hartini, sebagai seorang pramugari Garuda Indonesia harus mengikuti jadwal penerbangannya yang sangat padat dan ketat. Sedangkan Benny, selaku anggota pasukan komando sering kali harus bertugas mengikuti berbagai macam operasi militer di segala pelosok negeri.
Foto Dijaket Selama Gerilya
Pada pertengahan tahun 1961, Hartini memutuskan untuk mengikuti pendidikan lanjut bahasa Inggris. Hartini mendaftar di lembaga pendidikan East west Center di Hawai Amerika Serikat.
Disaat yang sama Benny sedang menjalankan tugasnya yaitu memimpin Operasi Naga untuk menyerbu Merauke. Untuk memberikan semangat kepada Benny yang akan menjalankan tugasnya, Hartini saat itu berada di Hawai Amerika Serikat, mengirimkan foto dirinya mengenakan pakaian Jawa berlatar belakang tempat kuliahnya.
Foto itulah yang selalu dibawa oleh Benny selama bergerilya di sekitar Merauke. Foto Hartini disimpan dalam sebuah dompet plastik tahan air, dimasukan ke dalam saku jaket tempurnya.
Sayangnya pada saat pasukannya disergap oleh marinir Belanda, jaket Benny tertinggal. Begitu pula dengan foto Hartini yang ada di dalam jaket tersebut. Untungnya, setelah gencatan senjata berlangsung foto tersebut dikembalikan kepada Benny.
Pesta Pernikahan Digelar Sederhana
Setelah kepulangan Hartini dari Hawai, keluarganya mendapatkan undangan untuk menghadiri acara kenegaraan di Istana. Undangan tersebut diberikan langsung oleh Sukarno kepada sahabatnya Ir. Anwari yang merupakan paman Hartini.
Sukarno mengamati keponakan sahabatnya.
“Kamu koq nggak kawin-kawin?’ tanya Sukarno pada Hartini.
“Lho, saya sudah punya pacar pak, dengan yang pernah diberi penghargaan Bintang sakti.” Jawab Hartini pelan.
“Ohh.. Benny ya..” Ucap Sukarno lagi.
Setelah mengetahui bahwa Hartini sedang menjalin hubungan dengan Benny, Sukarno langsung terdiam. Namun tak berselang lama Sukarno langsung memberikan tawaran kepada Hartini.
“kamu kan sudah nggak punya orang tua. Pokoknya, kalian kawin saja, nanti saya pestakan di Bogor.” Ucap Sukarno.
Petunjuk untuk kawin selalu mudah diberikan. Tetapi dalam pelaksanaannya tidak segampang yang direncanakan. Sampai akhirnya, keduanya melangsungkan pernikahan pada 12 Desember 1964 di catatan sipil Jakarta.
Sesuai dengan janji yang sudah pernah dikemukakan, beberapa hari kemudian Presiden Sukarno bersedia menyelenggarakan pesta perkawinan untuk Benny dan Hartini.
Pesta sederhana berlangsung di Istana Bogor yang dihadiri oleh sekitar tiga puluh orang tamu. Termasuk tamu kehormatan, Panglima TNI-AD Letnan Jenderal Achmad Yani. (nur)




















