KaltengPedia.com – Sampit – Helikopter water bombing Sampit disiapkan untuk memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Dukungan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tersebut berupa dua unit helikopter yang direncanakan standby di Sampit untuk menjangkau titik kebakaran yang sulit diakses petugas melalui jalur darat. Langkah ini diharapkan membantu mempercepat pemadaman sekaligus mencegah api meluas ke wilayah lain.
Koordinator Lapangan Rihel mengatakan lokasi penyiraman akan ditentukan berdasarkan hasil pemantauan dan koordinasi Satgas Udara serta Satgas Darat. Informasi titik api dikumpulkan dari berbagai sumber, termasuk pengecekan langsung oleh tim di lapangan dan laporan personel kepolisian di wilayah masing-masing. Aplikasi SIPONGI juga digunakan sebagai salah satu acuan untuk mengidentifikasi titik yang membutuhkan penanganan melalui udara.
Pada tahap awal, helikopter water bombing Sampit diprioritaskan untuk menangani titik karhutla di sekitar wilayah kota yang sulit dijangkau melalui jalur darat. Namun, salah satu helikopter dapat diarahkan ke kawasan pedalaman apabila ditemukan titik api yang membutuhkan penanganan segera. Sejumlah wilayah di Kotim bagian selatan, seperti Pulau Hanaut, Ujung Pandaran, dan Bagendang, masuk dalam pemetaan lokasi yang berpotensi menjadi sasaran operasi udara. Dukungan tersebut diperkirakan berlangsung satu hingga dua minggu dan dapat diperpanjang BNPB sesuai kondisi di lapangan.Operasi helikopter water bombing Sampit tidak membebani anggaran Pemkab Kotim karena biaya operasional ditanggung BNPB melalui kerja sama dengan operator. Meski demikian, pelaksanaan pemadaman dari udara tetap bergantung pada kondisi cuaca dan jarak pandang. Satgas menyebut jarak pandang menjadi faktor penting untuk keselamatan penerbangan sekaligus efektivitas penyiraman, dengan kebutuhan visibility minimal sekitar 5 kilometer.




















