Kaltengpedia – Palangka Raya – Kenaikan harga Pertamax hingga mencapai Rp16.650 per liter memunculkan berbagai respons dari masyarakat. Selain berdampak pada pengeluaran rumah tangga dan biaya operasional usaha, kebijakan harga tersebut juga memunculkan kekhawatiran terkait kemungkinan meningkatnya konsumsi Pertalite yang berujung pada kelangkaan bahan bakar bersubsidi di sejumlah daerah, termasuk Kalimantan Tengah.
Secara ekonomi, perubahan perilaku konsumen akibat kenaikan harga merupakan hal yang lazim terjadi. Ketika harga suatu komoditas meningkat cukup signifikan, masyarakat akan mencari alternatif yang lebih ekonomis. Dalam konteks bahan bakar minyak, Pertalite menjadi pilihan utama karena selisih harga yang semakin jauh dibandingkan Pertamax.
Kondisi ini berpotensi mendorong sebagian pengguna kendaraan yang sebelumnya menggunakan Pertamax untuk beralih ke Pertalite guna mengurangi beban pengeluaran. Peralihan tersebut kemungkinan lebih besar terjadi pada kelompok masyarakat kelas menengah, pelaku usaha mikro, hingga sektor transportasi yang sangat sensitif terhadap kenaikan biaya operasional.
Bagi Kalimantan Tengah, fenomena ini perlu menjadi perhatian karena karakteristik wilayah yang luas serta kondisi geografis yang menantang menyebabkan distribusi BBM tidak selalu berjalan dengan mudah. Jika terjadi lonjakan permintaan Pertalite dalam waktu singkat, sejumlah SPBU dapat mengalami peningkatan tekanan pasokan, terutama di wilayah yang jauh dari pusat distribusi.
Meski demikian, kenaikan harga Pertamax tidak secara otomatis menyebabkan Pertalite menjadi langka. Kelangkaan baru akan terjadi apabila peningkatan konsumsi tidak diimbangi dengan penyesuaian pasokan, pengawasan distribusi, serta pengelolaan stok yang memadai oleh pihak terkait.
Karena itu, tantangan utama yang dihadapi Kalimantan Tengah bukan hanya mengenai ketersediaan stok BBM, melainkan memastikan distribusi berjalan merata hingga ke seluruh kabupaten dan wilayah pelosok. Koordinasi yang baik antara pemerintah, Pertamina, dan pengelola SPBU menjadi faktor penting untuk menjaga stabilitas pasokan di tengah perubahan pola konsumsi masyarakat.
Pada akhirnya, kenaikan harga Pertamax memang berpotensi meningkatkan permintaan Pertalite. Namun selama sistem distribusi dan pengawasan berjalan optimal, risiko kelangkaan masih dapat diminimalkan. Yang paling penting adalah memastikan masyarakat tetap memperoleh akses energi secara adil, merata, dan berkelanjutan di seluruh wilayah Kalimantan Tengah. (AR/Kalped)






















