Pemprov Kalimantan Tengah Gelontorkan Rp130 Miliar Demi Mahakarya Huma Betang, Simbol Peradaban dan Benteng Identitas Budaya Dayak

Dok. MMC Kalteng

Kaltengpedia.com – Palangka Raya – Di tengah gelombang efisiensi anggaran yang melanda sebagian besar daerah di Indonesia, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah mengambil langkah berani dan visioner. Dengan mengalokasikan anggaran fantastis senilai Rp130 miliar dari APBD, Pemprov Kalteng resmi memulai pembangunan Huma Betang—rumah adat raksasa yang diproyeksikan menjadi landmark budaya terbesar dan simbol kebanggaan baru di jantung Pulau Borneo.

Proyek strategis kebudayaan yang ditargetkan rampung dalam rentang waktu dua tahun ini menandai babak baru peradaban daerah. Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kalimantan Tengah, Juni Gultom, menegaskan bahwa bangunan megah ini tidak sekadar berdiri sebagai fasilitas fisik semata.

Bangunan ini diorientasikan tidak hanya menjadi landmark daerah, tetapi juga merepresentasikan semangat persatuan, kebersamaan, dan gotong royong yang menjadi filosofi luhur Huma Betang, tegas Juni Gultom.

Investasi Jangka Panjang Melawan Krisis Identitas Langkah berani Gubernur Kalteng Agustiar Sabran dalam mengeksekusi proyek bernilai ratusan miliar rupiah ini didasari oleh alarm kekhawatiran atas terkikisnya jati diri bangsa di tengah arus globalisasi dan digitalisasi yang masif. Pemprov Kalteng memandang bahwa pelestarian kebudayaan adalah investasi mutlak masa depan yang setara pentingnya dengan pembangunan infrastruktur ekonomi.

Dengan mendominasi penggunaan material kayu ulin—kayu khas Kalimantan yang terkenal kokoh dan tahan hingga berabad-abad—Huma Betang dirancang bukan sekadar tempat wisata atau seremonial belaka. Kompleks mahakarya ini disiapkan sebagai pusat diplomasi kebudayaan, museum, galeri, pusat pendidikan sejarah, hingga wadah pelaksanaan forum-forum internasional berskala besar.

Menjawab Tantangan Publik Secara Terbuka Menyadari potensi perhatian publik terhadap alokasi anggaran besar di tengah tren penghematan nasional, Pemprov Kalteng menegaskan sikap transparansi dan keterbukaan. Proyek mercusuar ini dipastikan berjalan on-track dengan standar konstruksi dan tata kelola keuangan yang ketat.

Silakan kritik kami, tetapi kritik yang membangun. Jangan membalikkan fakta, ujar Gubernur Agustiar Sabran secara terbuka, menegaskan bahwa Huma Betang adalah benteng pertahanan identitas yang harus diwariskan tanpa kompromi kepada generasi mendatang.

Melalui megaproyek ini, Kalimantan Tengah tidak hanya memperkokoh posisinya sebagai rumah besar keberagaman, tetapi juga mengirimkan pesan kuat kepada dunia internasional bahwa peradaban Dayak tetap tegak berdiri, lestari, dan berdaulat di era modern.

Pos terkait