Rehab Gedung KONI Kotawaringin Barat Rp1,2 M, Seberapa Penting bagi Masyarakat?

Foto : Mmc Kotawaringin Barat

Kaltengpedia.com – Proses tender proyek Rehabilitasi Finishing Gedung KONI di Kabupaten Kotawaringin Barat kini memasuki tahap krusial, yakni masa sanggah. Paket pekerjaan konstruksi dengan nilai hampir Rp1,2 miliar ini sebelumnya diikuti oleh sembilan peserta.

Tender yang dikelola oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kotawaringin Barat tersebut bersumber dari APBD Tahun Anggaran 2026, dengan nilai pagu sebesar Rp1.199.998.800 dan Harga Perkiraan Sendiri (HPS) Rp1.192.750.000.

Proyek ini menggunakan metode tender pascakualifikasi satu file dengan sistem gugur dan penawaran harga terendah, yang berarti peserta dengan harga paling rendah dan memenuhi syarat berpeluang besar ditetapkan sebagai pemenang.

Bacaan Lainnya

Saat ini, tahapan telah memasuki masa sanggah—fase di mana peserta yang tidak puas terhadap hasil evaluasi dapat mengajukan keberatan secara resmi.

Fokus Pekerjaan

Paket pekerjaan ini tidak mencakup pembangunan baru, melainkan difokuskan pada penyelesaian akhir atau finishing Gedung KONI. Lingkup pekerjaan meliputi:

pengecatan,

perbaikan langit-langit,

pekerjaan beton dan pasangan,

instalasi listrik,

sanitasi dan septic tank,

hingga pekerjaan pagar dan pendukung lainnya.

Pemerintah daerah menargetkan proyek ini dapat meningkatkan kualitas serta fungsi gedung agar lebih layak dan representatif untuk mendukung aktivitas olahraga di daerah.

Waktu Pelaksanaan

 

Pekerjaan direncanakan berlangsung selama 120 hari kalender, dengan masa pemeliharaan selama 60 hari setelah pekerjaan selesai.

 

Persaingan dan Sorotan

 

Dengan jumlah peserta mencapai sembilan perusahaan dan nilai proyek yang cukup besar untuk kategori usaha kecil, tender ini dinilai cukup kompetitif. Namun, penggunaan sistem harga terendah juga kerap menjadi sorotan karena berpotensi menekan kualitas pekerjaan jika tidak diawasi secara ketat.

Selain itu, tahap masa sanggah menjadi momen penting untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas dalam proses pengadaan.

Persaingan dan Sorotan

 

Dengan jumlah peserta mencapai sembilan perusahaan dan nilai proyek yang cukup besar untuk kategori usaha kecil, tender ini dinilai cukup kompetitif. Namun, penggunaan sistem harga terendah juga kerap menjadi sorotan karena berpotensi menekan kualitas pekerjaan jika tidak diawasi secara ketat.

Selain itu, tahap masa sanggah menjadi momen penting untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas dalam proses pengadaan.

Hingga saat ini, belum ada informasi resmi terkait adanya sanggahan dari peserta maupun penetapan final pemenang yang berkontrak.

Pos terkait