Kaltengpedia.com – PALANGKA RAYA – Krisis air Kalteng mulai dirasakan di sejumlah wilayah seiring kemarau panjang yang berlangsung. Kondisi tersebut tidak hanya meningkatkan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), tetapi juga berdampak terhadap ketersediaan air bersih dan kualitas air baku. Seruyan bahkan menaikkan status penanganan dari siaga menjadi tanggap darurat karhutla dan kekeringan.
Bupati Seruyan Ahmad Selanorwanda mengatakan perubahan status dilakukan setelah pemerintah melihat peningkatan frekuensi dan luasan kebakaran serta ancaman kekeringan yang semakin nyata. Keputusan tersebut dibahas dengan mempertimbangkan perkembangan kondisi di lapangan dan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Dengan status tanggap darurat, pemerintah daerah akan memperkuat sumber daya manusia, sarana dan prasarana, serta sosialisasi kepada masyarakat.Persoalan ketersediaan air juga terjadi di Kabupaten Sukamara. Embung Tempenek di Desa Sungai Raja, Kecamatan Jelai, yang menjadi sumber air baku Perumdam Tirta Sukma, kini hanya menyisakan satu dari lima kolam. Kondisi itu membuat pengelola harus melakukan langkah darurat agar sisa air tetap dapat dimanfaatkan. Petugas membuat alur atau sodetan secara manual untuk mengarahkan air menuju intake pompa.
Sementara di Kabupaten Kotawaringin Timur, persoalan air muncul akibat tingginya salinitas atau kadar garam karena masuknya air laut. Kondisi tersebut membuat air sungai di sejumlah wilayah bagian selatan tidak dapat digunakan sebagai bahan baku air minum. Perumdam Tirta Mentaya menyebut air dengan kadar salinitas tinggi masih dapat digunakan untuk kebutuhan mandi, mencuci, dan kakus, tetapi tidak disarankan untuk dikonsumsi.Untuk membantu masyarakat terdampak, Perumdam Tirta Mentaya menyiapkan sedikitnya enam armada tangki untuk mengirimkan air bersih secara gratis. Distribusi dilakukan ke sejumlah wilayah, di antaranya Kota Besi dan Cempaka Mulia, dengan melibatkan pemerintah kecamatan dan kelurahan. Warga yang membutuhkan bantuan harus mendapatkan surat atau rekomendasi dari otoritas setempat agar distribusi tepat sasaran dan tidak diperjualbelikan.
Krisis air Kalteng kini menjadi persoalan yang berjalan bersamaan dengan ancaman karhutla. Pemerintah daerah dan pengelola layanan air terus memantau kondisi sumber air, termasuk perubahan kadar salinitas yang dapat dipengaruhi pasang air laut. Pemantauan kualitas air dilakukan secara berkala untuk memastikan kondisi air yang tersedia bagi masyarakat.Situasi di Seruyan, Sukamara, dan Kotawaringin Timur menunjukkan dampak kemarau mulai dirasakan dalam bentuk berbeda. Mulai dari meningkatnya ancaman kekeringan, menyusutnya sumber air baku, hingga masuknya air laut yang meningkatkan kadar garam pada sumber air. Kondisi tersebut membuat pemerintah daerah dan pengelola layanan air perlu memperkuat langkah penanganan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.





















