Jalan Rusak di Kalteng: PR Infrastruktur Terbesar, Tak Sekadar Seremoni dan Angka

kaltengpedia.com – Kerusakan jalan di Kalimantan Tengah (Kalteng) terus menjadi persoalan serius yang hingga Juni 2025 belum menemui solusi tuntas. Tak sekadar soal angka, kondisi jalan nasional dan provinsi yang kritis kini menimbulkan risiko tinggi terhadap keselamatan publik dan menghambat distribusi barang.

Data Kerusakan Jalan 2024–2025 Berdasarkan Penelusuran Tim Litbang Kaltengpedia

  • Jalan Nasional Desa Timpah, Kapuas – Berlubang parah dan sering tergenang air, menghambat mobilitas dan menimbulkan kecelakaan.

    Bacaan Lainnya
  • Jalan Nasional Pangkalan Banteng, Kobar – Aksi warga tanam pohon pisang di jalan berlubang sebagai bentuk protes terhadap lambannya perbaikan.

  • Jalan Provinsi Palangka Raya–Gunung Mas – Pemprov telah mengucurkan Rp754,8 miliar sejak 2016, namun per April 2025 masih tersisa 7,7 km dalam kondisi rusak berat.

  • Jalan Provinsi Gunung Mas–Palangka Raya – Rusak parah akibat overtonase truk tambang; diperbaiki dengan dana Rp80 miliar namun dikhawatirkan tidak tahan lama.

  • Jalan Provinsi Ujung Pandaran–Kuala Pembuang, Seruyan – Baru diperbaiki akhir 2024, namun sudah mengalami retakan dan longsor di beberapa titik sebelum masa pemeliharaan habis.

  • Kereng Pangi–Tumbang Samba (Katingan) – Titik rawan kecelakaan maut akibat lubang besar dan genangan air di jalur utama Trans Kalimantan.

Di luar ruas utama, jalan pedalaman di 13 kabupaten dan 1 kota di Kalteng juga masih dalam kondisi memprihatinkan. Jalan-jalan penghubung desa, kawasan pertanian, dan wilayah eks transmigrasi masih belum sepenuhnya teraspal, atau rusak akibat faktor cuaca, banjir, dan minimnya pemeliharaan.

Beberapa titik yang dilaporkan warga dan media:

  • Murung Raya: Jalan desa di kawasan Barito Utara dan Barito Selatan rusak berat saat musim hujan.

  • Gunung Mas: Ruas menuju desa-desa di Kecamatan Mihing Raya dan Tewah hanya bisa dilewati kendaraan 4WD.

  • Lamandau dan Sukamara: Jalan-jalan penghubung antar desa masih berupa tanah merah, sering licin dan terputus saat banjir.

  • Kapuas Hulu dan Timpah: Akses menuju sentra pertanian terganggu akibat jalan rusak.

  • Palangka Raya: Jalan lingkungan di pinggiran kota masih banyak berlubang meski statusnya kota provinsi.

Bukan Sekadar Anggaran dan Seremoni

Selama 2024–2025, milliaran rupiah dialokasikan melalui APBD maupun dana DAK pusat, namun banyak proyek dikerjakan tanpa pengawasan ketat dan masa pemeliharaan yang jelas. Di sisi lain, pernyataan-pernyataan seremonial tanpa solusi berkelanjutan dinilai publik sebagai bentuk pencitraan, bukan penyelesaian.

Gubernur Kalteng Agustiar Sabran dan jajarannya telah beberapa kali meninjau lokasi-lokasi krusial, namun masyarakat menuntut tindak lanjut konkret, bukan hanya kehadiran simbolik di lapangan.

Jalan bukan hanya penghubung fisik, tetapi nadi utama pembangunan daerah. Jika infrastruktur dasar seperti jalan masih rusak, maka janji pemerataan pembangunan hanya akan tinggal wacana. Kini, pertanyaannya bukan lagi soal berapa miliar digelontorkan, tetapi sampai kapan kerusakan ini berakhir?

Pos terkait