Jawet Suring : Angkat Budaya Dayak Lewat Kerajinan Etnik Bernilai Eksklusif

Dok : MMC Kota Palangka Raya

Kaltengpedia – Palangka Raya – Kerajinan etnik Dayak Jawet Suring di Jalan Kakap I, Kelurahan Bukit Tunggal, terus berkembang sebagai salah satu UMKM unggulan di Kota Palangka Raya. Usaha yang dirintis Soleo Candra selama tujuh tahun ini tidak hanya menghasilkan produk kerajinan, tetapi juga mengangkat nilai budaya Dayak Kalimantan Tengah ke panggung yang lebih luas.

Di rumah produksinya, Soleo terlihat telaten mengerjakan detail motif Batang Garing yang merupakan simbol pohon kehidupan dalam filosofi masyarakat Dayak. Menurutnya, setiap produk yang dihasilkan bukan sekadar aksesoris, melainkan memiliki makna budaya dan nilai spiritual yang kuat.

“Ini simbol hubungan kita dengan Sang Pencipta. Saat dipakai, kita membawa filosofi hidup masyarakat Dayak,” ujarnya, Jumat (17/4/2026).

Produk Jawet Suring dikenal memiliki kualitas tinggi karena menggunakan bahan baku pilihan, seperti kulit kayu nyamuk (kapua) yang kuat dan tahan lama. Proses seleksi bahan dilakukan secara ketat untuk memastikan hasil produk tetap awet dan memiliki nilai estetika tinggi.

Mengikuti perkembangan zaman, Soleo juga terus melakukan inovasi desain agar produk etnik Dayak semakin diminati, khususnya oleh generasi muda. Salah satunya dengan menyederhanakan desain aksesoris seperti sumping atau ikat kepala perempuan Dayak agar lebih praktis dan fleksibel digunakan dalam berbagai kesempatan.

“Sekarang desainnya lebih simpel, bisa dipakai ke acara formal maupun santai, tapi tetap mempertahankan identitas Dayak,” katanya.

Beragam produk yang dihasilkan antara lain baju Sangkarut, Lawung, Sumping, Sangkirai, hingga berbagai aksesoris berbahan kulit kayu dan rotan. Produk-produk tersebut dipasarkan melalui pameran, media sosial, gerai Dekranasda, hingga toko pernak-pernik khas Dayak dengan harga berkisar Rp150 ribu hingga Rp2,7 juta tergantung bahan dan tingkat kesulitan pengerjaan.

Dengan proses produksi yang masih dilakukan secara manual, Soleo hanya mampu menghasilkan sekitar tujuh set lengkap setiap bulan. Keterbatasan produksi tersebut justru menjadikan produk Jawet Suring memiliki kesan eksklusif dan bernilai koleksi tinggi.

Saat ini karya Jawet Suring telah digunakan berbagai kalangan, mulai dari anak muda, tokoh adat, hingga pejabat daerah. Ke depan, Soleo berharap produk etnik Dayak dapat menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern tanpa meninggalkan nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

“Harapan saya, budaya Dayak tidak hanya hadir saat acara adat, tapi juga dipakai dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.

Keberhasilan Jawet Suring menjadi bukti bahwa UMKM berbasis kearifan lokal memiliki potensi besar untuk berkembang sekaligus menjadi peluang ekonomi menjanjikan melalui inovasi dan pelestarian budaya. (Yd/Kalped)

Pos terkait