BPS Kalteng: Inflasi Awal 2026 Dipicu Kenaikan Harga Pangan dan Emas

Dok - MMC Kalteng

Kaltengpedia – Palangka Raya – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Tengah merilis Berita Resmi Statistik (BRS) Tahun 2026 yang mencatat perkembangan sejumlah indikator ekonomi strategis daerah. Dalam rilis tersebut, Kalimantan Tengah mengalami inflasi sebesar 0,38 persen secara month-to-month (m-to-m) pada Januari 2026. Kenaikan inflasi terutama dipengaruhi oleh lonjakan harga komoditas pangan serta kenaikan harga emas perhiasan yang turut memberi tekanan pada kelompok pengeluaran masyarakat.

Statistisi Ahli Madya BPS Provinsi Kalimantan Tengah, M. Taufiqurrahman, menjelaskan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi dengan andil mencapai 0,30 persen. Komoditas utama pemicu inflasi meliputi daging ayam ras, ikan gabus, ikan nila, beras, dan emas perhiasan. Sementara itu, penurunan harga bawang merah serta cabai rawit menjadi faktor penahan laju kenaikan harga pada awal tahun ini.

Secara tahunan atau year-on-year (y-on-y), inflasi Kalimantan Tengah tercatat sebesar 4,09 persen. Angka tersebut dipengaruhi kenaikan tarif listrik, biaya perumahan, serta peningkatan harga logam mulia. Meski demikian, kondisi ekonomi daerah dinilai tetap cukup stabil dengan dukungan sektor pertanian yang masih menunjukkan tren positif. Nilai Tukar Petani (NTP) pada Januari 2026 tercatat 134,67, naik 0,06 persen dibanding bulan sebelumnya, menandakan daya beli petani relatif terjaga.

Selain memaparkan inflasi, BPS juga melaporkan neraca perdagangan Kalimantan Tengah tetap surplus sepanjang 2025. Sektor pariwisata dan transportasi turut menunjukkan peningkatan, meski produksi padi mengalami penurunan akibat berkurangnya luas panen. Pemerintah daerah diharapkan terus menjaga stabilitas harga melalui penguatan distribusi pangan, pengendalian pasokan, dan pengawasan komoditas strategis agar inflasi tetap terkendali sepanjang 2026.

Pos terkait