kaltengpedia.com – Palangka Raya – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Kalimantan Tengah terus memperkuat literasi dan inklusi keuangan masyarakat melalui berbagai program edukasi pasar modal. Upaya tersebut dilakukan sebagai bagian dari strategi meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap investasi yang legal, aman, dan sesuai dengan profil risiko, sekaligus mendorong pertumbuhan investor domestik di daerah.
Kepala OJK Kalimantan Tengah, Primandanu Febriyan Aziz, mengatakan bahwa sepanjang tahun 2026 pihaknya bersama berbagai pemangku kepentingan telah menyelenggarakan 17 kegiatan edukasi pasar modal yang menjangkau 5.455 peserta di seluruh 14 kabupaten/kota di Kalimantan Tengah. Kegiatan tersebut menyasar berbagai lapisan masyarakat, khususnya generasi muda, mahasiswa, pelaku usaha, hingga komunitas yang memiliki potensi menjadi investor baru.
Program edukasi dilaksanakan melalui kolaborasi dengan Bursa Efek Indonesia (BEI), perguruan tinggi, serta berbagai institusi lainnya dalam bentuk Sekolah Pasar Modal dan Sosialisasi serta Edukasi Pasar Modal Terpadu (SEPMT). Melalui program tersebut, masyarakat diberikan pemahaman mengenai mekanisme investasi, pengelolaan risiko, hingga pentingnya memilih instrumen investasi yang berada di bawah pengawasan OJK.
Menurut Primandanu, literasi pasar modal merupakan fondasi penting dalam membangun budaya investasi yang sehat. Dengan pemahaman yang memadai, masyarakat diharapkan mampu mengambil keputusan investasi secara rasional, terukur, dan sesuai dengan tujuan keuangan masing-masing, sehingga terhindar dari perilaku Fear of Missing Out (FOMO) maupun berbagai bentuk penawaran investasi ilegal yang berpotensi merugikan.
Peningkatan edukasi tersebut juga diikuti dengan tren positif jumlah investor di Kalimantan Tengah. Data OJK mencatat jumlah investor saham dan surat berharga lainnya meningkat dari 74.792 investor pada Januari 2026 menjadi 80.666 investor pada April 2026. Pertumbuhan ini menunjukkan meningkatnya minat masyarakat terhadap instrumen investasi di pasar modal sekaligus menjadi indikator bahwa program literasi yang dijalankan mulai memberikan dampak nyata.
OJK menilai generasi muda memiliki peran strategis dalam mendorong peningkatan literasi dan inklusi keuangan nasional. Oleh karena itu, sinergi dengan perguruan tinggi terus diperkuat, termasuk melalui pengembangan program yang menargetkan lahirnya lebih banyak investor muda yang memahami prinsip investasi secara benar dan bertanggung jawab.
Ke depan, OJK Kalimantan Tengah menegaskan komitmennya untuk terus memperluas jangkauan edukasi pasar modal ke berbagai daerah. Langkah ini diharapkan tidak hanya meningkatkan jumlah investor ritel domestik, tetapi juga membuka akses pendanaan yang lebih luas bagi pelaku usaha melalui pasar modal serta memperkuat ketahanan sektor keuangan daerah dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. (Yd/Kalped)






















