137 Hotspot Terdeteksi di Kalteng, Upaya Pencegahan Karhutla Diminta Diperketat

Dok : Ilustrasi

kaltengpedia.com – Palangka Raya – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Palangka Raya mendeteksi sebanyak 137 titik panas (hotspot) yang tersebar di berbagai wilayah Kalimantan Tengah berdasarkan hasil pemantauan pada Jumat (10/7). Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menjadi daerah dengan jumlah hotspot terbanyak, sehingga memerlukan kewaspadaan dan langkah pencegahan yang lebih intensif terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Palangka Raya, Chandra Mukti Wijaya, menjelaskan bahwa data hotspot merupakan bagian dari sistem peringatan dini yang digunakan untuk memantau potensi karhutla selama musim kemarau. Meski tidak seluruh titik panas menunjukkan adanya kebakaran, keberadaannya menjadi indikator yang perlu segera diverifikasi di lapangan agar tidak berkembang menjadi titik api yang lebih luas.

Berdasarkan hasil pemantauan, Kabupaten Kotawaringin Timur mencatat 33 titik panas, disusul Kabupaten Lamandau sebanyak 23 titik, Pulang Pisau 19 titik, Kapuas 17 titik, dan Sukamara 13 titik. Selanjutnya Gunung Mas terpantau memiliki delapan hotspot, Kotawaringin Barat tujuh titik, Katingan dan Seruyan masing-masing lima titik, Barito Timur serta Barito Utara masing-masing dua titik, sedangkan Barito Selatan, Murung Raya, dan Kota Palangka Raya masing-masing tercatat satu titik panas.

BMKG menilai lonjakan jumlah hotspot tersebut menjadi sinyal penting bagi pemerintah daerah, aparat penanggulangan bencana, serta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Memasuki puncak musim kemarau, kondisi cuaca yang cenderung cerah hingga berawan dengan kelembapan udara yang mulai menurun dapat meningkatkan risiko terjadinya kebakaran, terutama pada kawasan lahan gambut yang mudah terbakar saat mengalami kekeringan.

Di sisi lain, BMKG menyebutkan masih terdapat peluang hujan ringan hingga sedang di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah. Namun, hujan diperkirakan hanya terjadi secara lokal dan tidak cukup untuk menghilangkan potensi karhutla secara menyeluruh. Karena itu, masyarakat diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan apabila menemukan titik api agar dapat ditangani sejak dini.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah bersama BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, serta berbagai unsur terkait terus memperkuat langkah mitigasi melalui patroli terpadu, pemantauan hotspot, sosialisasi kepada masyarakat, dan kesiapan personel di daerah rawan karhutla. Upaya tersebut diharapkan mampu menekan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau tahun ini sekaligus meminimalkan dampak terhadap lingkungan, kesehatan masyarakat, dan aktivitas perekonomian.

Pos terkait