Anak SD di Kalteng Mulai Terpapar NAPZA, RSJ Kalawa Atei Siapkan Rehabilitasi Berbasis Akademi

Dok. Ilustrasi

Kaltengpedia – PALANGKA RAYA – Fenomena penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (NAPZA) di Kalimantan Tengah mulai menyasar kelompok usia yang semakin muda. Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Kalawa Atei bahkan mengungkap adanya pasien rehabilitasi yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).

Direktur RSJ Kalawa Atei, Seniriaty, menyebut kondisi tersebut menjadi alarm serius karena menunjukkan bahwa persoalan penyalahgunaan NAPZA tidak lagi hanya dihadapi kelompok usia dewasa.

Menurutnya, kondisi tersebut juga menuntut perubahan pendekatan rehabilitasi. Penanganan anak dan remaja membutuhkan metode, fasilitas, serta pendampingan yang berbeda dengan pasien dewasa.

Sebagai respons, RSJ Kalawa Atei menghadirkan Gedung Rehabilitasi NAPZA Terpadu Isen Mulang Akademi. Fasilitas tersebut dirancang dengan pendekatan yang mengubah paradigma rehabilitasi dari tempat yang dianggap sebagai ruang hukuman menjadi lingkungan pembelajaran dan pemulihan.

“Rehabilitasi bukan penjara. Mereka bukan dikurung, tetapi mengikuti proses pembelajaran. Ada kelas-kelas yang harus dilalui sampai dinyatakan siap kembali ke masyarakat,” ujar Seniriaty.

Konsep akademi ini diharapkan mampu mengurangi stigma terhadap rehabilitasi sekaligus mendorong masyarakat, termasuk keluarga, untuk membawa korban penyalahgunaan NAPZA menjalani pemulihan secara sukarela sebelum persoalan berkembang menjadi perkara hukum.

Isen Mulang Akademi menyediakan layanan rehabilitasi dengan pendekatan multidisiplin. Pasien mendapatkan pendampingan dari psikiater, psikiater subspesialis adiksi, psikolog, serta tenaga kesehatan yang telah mendapatkan pelatihan khusus.

Program rehabilitasi disesuaikan dengan hasil asesmen masing-masing pasien dan dapat berlangsung selama tiga hingga enam bulan. Pendekatan pemulihan mencakup aspek medis, psikologis, sosial, spiritual, dan budaya.

Namun, meningkatnya pasien anak menjadi tantangan baru. Gedung rehabilitasi yang saat ini beroperasi masih dirancang untuk pasien dewasa. Karena alasan regulasi dan psikologis, pasien anak tidak dapat menjalani rehabilitasi bersama pasien dewasa.

RSJ Kalawa Atei pun mulai menyiapkan layanan khusus bagi anak-anak dan remaja. Langkah tersebut dinilai penting agar proses pemulihan dapat berlangsung sesuai kebutuhan tumbuh kembang dan kondisi psikologis mereka.

Di sisi lain, keberhasilan rehabilitasi tidak hanya ditentukan oleh fasilitas kesehatan. Dukungan keluarga dan lingkungan menjadi bagian penting untuk memastikan anak maupun mantan pengguna NAPZA dapat kembali menjalani kehidupan sosial tanpa stigma dan tidak kembali terjerumus.

Munculnya pasien usia SD menjadi peringatan bahwa pencegahan penyalahgunaan NAPZA harus diperkuat sejak lingkungan keluarga, sekolah, hingga masyarakat. Penanganan tidak cukup hanya dilakukan setelah korban mengalami ketergantungan, tetapi juga melalui edukasi dan perlindungan sejak dini.

Pos terkait