kaltengpedia.com – Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah melalui Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian dan Statistik (Diskominfosantik) terus mendorong pemerataan akses internet hingga ke pelosok desa. Plt. Kepala Diskominfosantik Prov. Kalteng, Rangga Lesmana, menyampaikan bahwa penyediaan sarana internet menjadi salah satu prioritas dalam program unggulan Gubernur dan Wakil Gubernur Kalteng, yaitu program HUMA BETANG.
Program ini menitikberatkan pada peningkatan akses sinyal dan jaringan internet, khususnya di wilayah pedalaman yang hingga kini masih mengalami kesulitan akses internet. Hal ini disampaikan Rangga saat memimpin rapat bersama Diskominfo Kabupaten/Kota se-Kalteng terkait penyediaan sarana internet, yang digelar di Aula Kanderang Tingang Diskominfosantik Prov. Kalteng, Selasa (1/7/2025).
“Bantuan perangkat sarana internet dari Pemprov Kalteng akan disalurkan melalui mekanisme hibah barang kepada Diskominfo Kabupaten/Kota. Harapannya, seluruh masyarakat, termasuk di daerah terpencil, bisa menikmati layanan internet yang layak,” ujar Rangga.
Berdasarkan surat resmi Diskominfosantik Prov. Kalteng Nomor: 500.14/456/id.3/Diskominfo/V/2025 tanggal 16 Mei 2025, tercatat 376 desa/kelurahan yang masuk kategori blankspot atau kesulitan sinyal. Lokasi-lokasi ini tersebar di 11 kabupaten dan 1 kota, yaitu:
Barito Selatan: 27 desa
Barito Timur: 39 desa
Gunung Mas: 50 desa
Kapuas: 35 desa
Katingan: 34 desa
Palangka Raya: 11 kelurahan
Kotawaringin Barat: 16 desa
Kotawaringin Timur: 14 desa
Lamandau: 45 desa
Murung Raya: 44 desa
Pulang Pisau: 6 desa
Seruyan: 55 desa
Penyediaan sarana internet ini mencakup 91 kecamatan dan merupakan bagian dari strategi Pemprov untuk memperluas akses digital di seluruh wilayah Kalteng.
Rangga menyampaikan bahwa hingga 30 Juni 2025, sudah 202 perangkat internet Starlink yang aktif dan digunakan di 202 desa/kelurahan. Sebanyak 18 perangkat lainnya belum aktif, sementara 149 perangkat masih dalam proses distribusi. Targetnya, seluruh 376 titik internet bisa beroperasi penuh paling lambat pada minggu pertama Agustus 2025.
Namun, proses distribusi menghadapi sejumlah kendala, di antaranya:
Akses jalan yang sulit dijangkau
Keterbatasan kendaraan
Ketidakhadiran perangkat desa
Penolakan bantuan perangkat
Ketiadaan SDM yang bisa dilatih untuk mengoperasikan perangkat
Lebih lanjut, Rangga menjelaskan bahwa program ini dilaksanakan melalui beberapa tahap:
- Mei 2025: Pendataan desa/kelurahan yang masih blankspot
- Mei – Agustus 2025: Tahap 1 distribusi dan instalasi perangkat Starlink di kantor desa
- Juni – Agustus 2025: Pendataan tambahan lokasi layanan publik yang masih butuh internet (Posyandu, Posbindu, SD, dll.)
- September – Desember 2025: Tahap 2 distribusi perangkat di lokasi tambahan
- Tahun 2026: Monitoring dan evaluasi pelaksanaan program
Langkah ini merupakan wujud nyata komitmen Gubernur Kalteng H. Agustiar Sabran dalam membangun pemerataan digital dan menjembatani kesenjangan teknologi, terutama di wilayah-wilayah yang selama ini terpinggirkan secara konektivitas.






















