Kasus ISPA Kobar Capai 14.086, Naik Saat Aktivitas Karhutla Meningkat

Dok : Istimewa

Kaltengpedia.com – KOTAWARINGIN BARAT – Kasus ISPA Kobar mencapai 14.086 kasus secara kumulatif hingga minggu epidemiologi ke-36 tahun 2026. Data Dinas Kesehatan Kotawaringin Barat menunjukkan kenaikan kasus berlangsung pada periode meningkatnya aktivitas kebakaran hutan dan lahan atau karhutla pada Juli hingga Agustus.Data tersebut berasal dari pemantauan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) Dinkes Kobar. Dinkes memperbarui data hingga 16 September 2026. Kondisi kasus ISPA pada pekan terakhir masih perlu mendapat perhatian karena angkanya relatif tinggi dibandingkan periode sebelum terjadi peningkatan.Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kobar, dr. Jhonferi Sidabalok, mengatakan masyarakat perlu tetap memperhatikan kondisi kesehatan. Imbauan juga terus disampaikan melalui Posko Karhutla, termasuk melalui siaran radio.

Kenaikan kasus terlihat jelas dalam beberapa pekan. Pada minggu epidemiologi ke-28, Dinkes mencatat 335 kasus ISPA. Angka tersebut kemudian naik menjadi 457 kasus pada minggu ke-29. Jumlahnya kembali meningkat menjadi 468 kasus pada minggu ke-30.Peningkatan berlanjut pada minggu ke-31 dengan 566 kasus. Artinya, jumlah kasus naik sekitar 68,9 persen dalam rentang minggu ke-28 hingga minggu ke-31. Setelah mencapai angka tersebut, kasus mulai mengalami penurunan pada beberapa pekan berikutnya.Pada minggu ke-32, kasus tercatat 514. Angka tersebut turun menjadi 461 kasus pada minggu ke-33 dan 422 kasus pada minggu ke-34. Namun, jumlah kasus kembali naik menjadi 534 pada minggu ke-35.Dinkes kemudian mencatat 471 kasus pada minggu ke-36. Angka tersebut turun sekitar 11,8 persen dibandingkan pekan sebelumnya. Meski mengalami penurunan, Dinkes tetap melakukan pemantauan karena jumlah kasus masih cukup tinggi.

Peningkatan ISPA tersebut secara waktu beriringan dengan meningkatnya aktivitas karhutla di Kobar. Paparan asap dan partikulat dari kebakaran menjadi salah satu faktor lingkungan yang berpotensi memengaruhi kesehatan saluran pernapasan.Namun, Dinkes Kobar menegaskan pola tersebut belum dapat digunakan untuk menyimpulkan hubungan sebab-akibat. Perubahan jumlah kasus ISPA juga dapat dipengaruhi faktor lain. Cuaca, infeksi saluran pernapasan, aktivitas masyarakat, mobilitas, serta perilaku mencari pengobatan dapat memengaruhi angka kasus.Karena itu, masyarakat perlu tetap memperhatikan kondisi udara ketika aktivitas karhutla meningkat. Dinkes mengimbau warga, terutama kelompok rentan, membatasi aktivitas di luar rumah jika kondisi udara memburuk. Kelompok yang mendapat perhatian khusus antara lain anak-anak, lansia, dan ibu hamil.

Warga yang tetap harus beraktivitas di luar rumah juga diminta menggunakan masker yang menutup hidung dan mulut. Masyarakat perlu segera mendapatkan pelayanan kesehatan apabila mengalami keluhan gangguan pernapasan, terutama ketika paparan asap meningkat.Dinkes Kobar terus memantau perkembangan ISPA melalui surveilans mingguan. Pemantauan juga mencakup pneumonia, influenza-like illness (ILI), dan diare. Langkah tersebut membantu pemerintah melihat perkembangan penyakit dan menentukan respons kesehatan masyarakat.Kasus ISPA Kobar yang mencapai 14.086 kasus menjadi perhatian di tengah kondisi karhutla. Meski terdapat pola kenaikan yang beriringan dengan meningkatnya aktivitas kebakaran, Dinkes tetap menekankan bahwa berbagai faktor dapat memengaruhi kasus ISPA. Masyarakat pun diminta menjaga kesehatan dan mengikuti informasi kondisi udara selama karhutla berlangsung.

Pos terkait