kaltengpedia.com – Jembatan layang yang membentang megah di ruas Jalan Pangkalan Bun-Kotawaringin Lama, Kabupaten Kotawaringin Barat, kini menjadi simbol sejarah luar biasa dalam pembangunan infrastruktur Kalimantan Tengah. Diresmikan oleh Gubernur Kalteng saat itu, H. Sugianto Sabran, pada Sabtu, 15 Februari 2020, jembatan ini bukan sekadar proyek fisik, melainkan tonggak penting dalam membuka keterisolasian wilayah di bagian barat Kalteng.
Memiliki panjang 3 kilometer dan lebar 9 meter, jalan layang ini dikerjakan dengan skema multiyears melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Kalimantan Tengah sebesar Rp 294,83 miliar. Masyarakat setempat mengenalnya dengan sebutan Jembatan Trining.
Sebelum jembatan ini dibangun, ruas Pangkalan Bun-Kotawaringin Lama kerap menjadi momok menakutkan, terutama saat musim hujan. Jalan tanah yang becek dan berlumpur membuat akses nyaris tak bisa dilalui. Bahkan, genangan banjir memaksa masyarakat memutar jalan melewati Lamandau dengan waktu tempuh lebih dari dua jam lebih lama. Kondisi ini berlangsung bertahun-tahun hingga akhirnya diperjuangkan dan dituntaskan oleh Gubernur Sugianto Sabran dalam masa kepemimpinannya selama satu dekade.
Kini, jembatan ini bukan hanya menghubungkan Kabupaten Kotawaringin Barat, Sukamara, dan Lamandau, namun juga menjadi bagian penting jalur strategis menuju Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat. Perjalanan dari Pangkalan Bun ke Sukamara kini dapat ditempuh dalam waktu kurang dari dua jam, memberikan dampak signifikan pada mobilitas warga dan pertumbuhan ekonomi kawasan.
Pada Juli 2025, jembatan ini kembali menjadi sorotan usai Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah melakukan pemeliharaan besar-besaran. Perubahan signifikan terlihat dari tampilannya yang kini lebih cerah dengan kombinasi warna biru dan putih yang menghiasi sisi pembatas kanan-kiri jembatan. Tak hanya pengecatan, pemeliharaan juga meliputi penambalan menyeluruh pada sambungan cor beton, menjadikan jembatan lebih nyaman dan aman dilalui.
Warga yang melintas menyambut positif langkah ini. “Sekarang lebih nyaman dan kelihatan lebih rapi. Kami senang pemerintah tidak melupakan infrastruktur penting ini,” ujar Darto, warga Kotawaringin Lama (02/07).
Jembatan Sugianto Sabran bukan hanya jalur lintas, tetapi juga simbol dedikasi dan perubahan nyata. Ia menjadi bukti bagaimana visi kepemimpinan yang konsisten dapat mengubah keterbatasan menjadi kekuatan. Sepuluh tahun perjuangan memperbaiki akses jalan kini berbuah manis, dirasakan manfaatnya oleh ribuan masyarakat hingga hari ini.






















