Kaltengpedia.com – BARITO SELATAN — Di tengah kemarau panjang yang belum juga berakhir, ribuan masyarakat bersama Pemerintah Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah, melaksanakan shalat istisqa dan doa bersama untuk memohon turunnya hujan.
Shalat istisqa digelar di halaman Masjid Agung Baiturrahman, Buntok, Selasa (1/9/2026).
Momentum tersebut berlangsung ketika kondisi kemarau masih dirasakan masyarakat dan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) turut mengganggu kualitas udara di wilayah Barsel.
Bupati Barito Selatan Eddy Raya Samsuri mengatakan shalat istisqa menjadi salah satu bentuk ikhtiar dan doa bersama agar hujan segera turun.
Menurutnya, masyarakat tetap perlu berdoa dan memohon ampun kepada Allah SWT, meskipun kondisi cuaca telah memiliki berbagai perkiraan secara ilmiah.
Ia berharap hujan segera mengguyur Barito Selatan sehingga kabut asap dapat berkurang dan musim kemarau segera berlalu.
“Kita tetap positif dan kita berdoa agar segera diguyur hujan.”
Eddy juga mengingatkan bahwa air merupakan kebutuhan mendasar bagi kehidupan masyarakat maupun lingkungan. Karena itu, turunnya hujan menjadi harapan di tengah kondisi kemarau yang berkepanjangan.
Bukan Sekadar Memohon Hujan
Ketua Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Barito Selatan Akhmad Akmal Husein menyampaikan bahwa pelaksanaan shalat istisqa juga menjadi momentum bagi umat Islam untuk melakukan introspeksi, bertobat, dan memohon ampun atas kesalahan yang telah dilakukan.
Ia berharap hujan yang nantinya turun benar-benar membawa manfaat bagi masyarakat dan tidak justru memicu bencana baru.
Harapan tersebut datang ketika persoalan kemarau di Barsel mulai memiliki dampak yang lebih luas.
Pada hari yang sama, BPBD Barito Selatan menyebut kabut asap yang menyelimuti wilayah tersebut dalam sepekan terakhir diduga kuat merupakan asap kiriman dari kebakaran hutan dan lahan di kabupaten tetangga.
BPBD menyatakan penanganan titik api di wilayah Barsel relatif terkendali, namun kebakaran di wilayah perbatasan masih menyebabkan asap bergerak masuk ke Barito Selatan.
Data BPBD juga mencatat sebanyak 2.037 hotspot terdeteksi di Barito Selatan sepanjang Januari hingga Agustus 2026, yang tersebar di enam kecamatan.
Kemarau Mulai Mengancam Ketersediaan Air
Persoalan lain yang mulai muncul adalah ketersediaan air bersih.
Anggota DPRD Barito Selatan Raden Sudarto meminta pemerintah daerah segera mengantisipasi kemungkinan krisis air bersih akibat kemarau panjang.
Ia mendorong OPD terkait menyiapkan langkah konkret, termasuk mendistribusikan air bersih kepada masyarakat yang mulai mengalami kesulitan mendapatkan air.
Dengan kondisi tersebut, persoalan kemarau di Barito Selatan tidak hanya berkaitan dengan kabut asap dan karhutla, tetapi juga mulai menyentuh kebutuhan dasar masyarakat.
Shalat istisqa pun menjadi bagian dari ikhtiar masyarakat di tengah kondisi tersebut.
Harapannya satu: hujan segera turun, udara kembali bersih, sumber air terisi, dan ancaman karhutla dapat ditekan.





















