kaltengpedia.com – Sebanyak 58.612 orang di Kalimantan Tengah (Kalteng) tercatat masuk kategori pengangguran sepanjang 2025 berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS). Kelompok lulusan baru atau fresh graduate menjadi salah satu bagian besar dari angka tersebut.
Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kalteng Farid Wajdi mengatakan lulusan sekolah maupun perguruan tinggi tidak selalu langsung terserap ke dunia kerja setelah menyelesaikan pendidikan.
Menurutnya, seseorang yang telah lulus tetapi masih aktif mencari pekerjaan tetap masuk dalam kategori pengangguran berdasarkan indikator ketenagakerjaan. Masa pencarian pekerjaan tersebut dapat berlangsung selama beberapa bulan sebelum akhirnya memperoleh pekerjaan.
“Data BPS sebanyak 58.612 orang di Kalteng masuk dalam kategori pengangguran pada 2025. Fresh graduate, karena begitu lulus kan belum tentu langsung bekerja,” ujar Farid, Rabu (12/8/2026).
Data tersebut tersebar di seluruh kabupaten dan kota di Kalteng. Kotawaringin Timur (Kotim) menjadi daerah dengan jumlah pengangguran tertinggi, yakni mencapai 10.114 orang.
Posisi berikutnya ditempati Palangka Raya sebanyak 8.175 orang, Kapuas 7.986 orang, Kotawaringin Barat 6.546 orang, Barito Utara 4.211 orang, Katingan 4.035 orang, dan Seruyan 3.180 orang.
Kemudian Barito Selatan mencatat 2.972 orang, Gunung Mas 2.461 orang, Barito Timur 2.267 orang, Lamandau 1.771 orang, Pulang Pisau 1.757 orang, Sukamara 1.638 orang, serta Murung Raya sebanyak 1.499 orang.
Farid mengatakan mayoritas pengangguran berada pada kelompok usia produktif. Namun, angka tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa lapangan pekerjaan di Kalteng sangat terbatas.
Ia menjelaskan tingkat pengangguran terbuka Kalteng masih berada di bawah empat persen. Artinya, sebagian besar penduduk usia kerja telah terserap ke dalam aktivitas pekerjaan.
Persoalan lain yang perlu diperhatikan adalah ketidaksesuaian kompetensi pencari kerja dengan kebutuhan perusahaan. Menurut Farid, sejumlah lowongan pekerjaan sebenarnya tersedia, tetapi tidak seluruhnya dapat diisi karena persyaratan pekerjaan tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan maupun keterampilan calon pekerja.
Faktor geografis juga menjadi tantangan tersendiri. Dengan luas wilayah Kalteng mencapai sekitar 153.564 kilometer persegi, jarak antara tempat tinggal pencari kerja dan lokasi perusahaan dapat memengaruhi minat maupun proses perekrutan tenaga kerja.
“Ada lowongan, tetapi tidak diminati karena lokasinya jauh. Ada juga lowongan yang tersedia tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan atau kompetensi pencari kerja,” kata Farid.
Kondisi tersebut menunjukkan persoalan ketenagakerjaan di Kalteng tidak hanya berkaitan dengan jumlah lapangan pekerjaan, tetapi juga kesesuaian antara kebutuhan industri, kompetensi tenaga kerja, serta akses pencari kerja terhadap lokasi pekerjaan.
Karena itu, peningkatan keterampilan dan penyesuaian kompetensi tenaga kerja dengan kebutuhan dunia usaha menjadi bagian penting untuk memperkuat penyerapan tenaga kerja di Kalteng.





















