Perempuan Gen Z di Kalteng Pilih Pasangan Lebih Tua, Bukan Karena Cari Sugar Daddy

Dok : Litbang kaltengpedia

kaltengpedia.com – Sebuah riset terbaru dari Litbang Kaltengpedia mengungkapkan fenomena menarik di kalangan perempuan Gen Z di Kalimantan Tengah. Berdasarkan survei terhadap 500 akun media sosial yang berasal dari pengikut Instagram Kaltengpedia dan beberapa akun sosial media lokal, mayoritas responden perempuan Gen Z menyatakan lebih memilih pasangan pria yang lebih tua. Namun, preferensi ini bukan dilandasi motif ekonomi atau keinginan mencari “sugar daddy”.

Penelitian yang dilakukan pada bulan Juli 2025 tersebut menunjukkan bahwa 67% responden perempuan Gen Z di Kalteng lebih tertarik kepada pria yang lebih tua dengan rentang usia antara 5 hingga 10 tahun. Sementara 21% memilih pasangan seumuran, dan hanya 12% yang menyukai pria lebih muda.

Ketertarikan kepada pria yang lebih tua umumnya disebabkan oleh faktor kedewasaan emosional, kestabilan psikologis, serta kemampuan memimpin dan mengambil keputusan, bukan karena alasan materi.

Bacaan Lainnya

“Kami menemukan bahwa narasi ‘cari sugar daddy’ kurang relevan dalam konteks lokal Kalimantan Tengah. Generasi Z perempuan di sini cenderung mencari pasangan yang membuat mereka merasa aman, dihargai, dan nyaman,” ujar Koordinator Litbang Kaltengpedia DIAN PRASETYA, 10/07/2025.

Pandangan ini juga diperkuat oleh sejumlah testimoni warganet. Salah satu responden yang diwawancarai melalui DM Instagram menyatakan, “Aku lebih nyaman dengan cowok yang lebih tua, karena biasanya lebih dewasa dan enggak egois.”

Temuan ini menjadi sinyal bahwa meskipun arus globalisasi dan budaya pop sangat kuat, perempuan muda di Kalimantan Tengah tetap mempertahankan nilai-nilai yang berakar pada kenyamanan emosional dan keberlanjutan dalam hubungan.

Litbang Kaltengpedia menyebut riset ini sebagai bagian dari rangkaian pemetaan tren gaya hidup dan psikologi sosial generasi muda di Kalimantan Tengah. Ke depan, Litbang Kaltengpedia berencana menggali lebih jauh pandangan Gen Z terkait isu pernikahan dini, relasi digital, dan pergeseran nilai dalam keluarga modern.

Pos terkait