kaltengpedia.com – Palangka Raya – Ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kalimantan Tengah masih membutuhkan kewaspadaan tinggi. Berdasarkan pemantauan hingga Minggu, 9 Agustus 2026 pukul 18.00 WIB, sebanyak 603 titik panas atau hotspot terdeteksi di sejumlah wilayah Kalteng.
Data tersebut tercantum dalam Infografis Harian Karhutla Provinsi Kalimantan Tengah. Pada periode yang sama, tercatat 48 kejadian Karhutla dengan luas area terbakar berdasarkan laporan lapangan pemerintah kabupaten/kota mencapai 65,92 hektare.
Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menjadi wilayah dengan jumlah hotspot tertinggi, yakni 233 titik. Selanjutnya Kabupaten Kapuas sebanyak 90 titik, Kota Palangka Raya 77 titik, Pulang Pisau 56 titik, Seruyan 33 titik, Kotawaringin Barat 27 titik, dan Katingan 25 titik.
Hotspot juga terpantau di Sukamara sebanyak 20 titik, Gunung Mas 19 titik, Barito Selatan 19 titik, serta Barito Timur empat titik. Sementara itu, Murung Raya dan Barito Utara tercatat tidak memiliki hotspot berdasarkan data pemantauan tersebut.
Dari laporan kejadian di lapangan, Kabupaten Kapuas mencatat luasan area terbakar terbesar, yakni 15,504 hektare. Kemudian Kotim mencapai 14,43 hektare dan Kotawaringin Barat 13,16 hektare.
Namun, terdapat angka estimasi yang jauh lebih besar berdasarkan analisis citra satelit Landsat 8 (OLI/TIRS). Dengan menggabungkan data hotspot, hasil pemeriksaan lapangan (ground check) dan hasil pemadaman Manggala Agni, estimasi luas area terbakar mencapai 3.069,52 hektare.
Perbedaan angka tersebut tidak serta-merta menunjukkan adanya ketidaksesuaian data. Kedua angka menggunakan metode penghitungan berbeda. Luasan 65,92 hektare merupakan akumulasi laporan kejadian dan verifikasi lapangan kabupaten/kota, sedangkan 3.069,52 hektare merupakan estimasi berdasarkan analisis citra satelit.
Kepala Pelaksana BPB-PK Provinsi Kalimantan Tengah, Ahmad Toyib, mengatakan 603 hotspot menjadi perhatian serius dan membutuhkan respons cepat melalui pemantauan serta verifikasi di lapangan.
“Dengan terpantau sebanyak 603 titik hotspot di wilayah Kalimantan Tengah, kondisi ini menjadi perhatian serius bagi kami. Setiap titik hotspot terus kami pantau dan tindak lanjuti bersama jajaran di lapangan,” ujarnya.
Ahmad menjelaskan, hotspot tidak secara otomatis menunjukkan adanya kebakaran. Karena itu, setiap titik perlu diverifikasi untuk mengetahui kondisi sebenarnya di lapangan.
“Deteksi dini dan respons cepat menjadi kunci agar api dapat segera dikendalikan dan tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas,” katanya.
Penanganan Karhutla juga didukung 10.700 personel gabungan, dua unit helikopter water bombing, serta satu unit helikopter patroli.
BPB-PK Kalteng menegaskan penanganan tidak hanya dilakukan melalui pemadaman. Patroli, pemantauan hotspot, edukasi masyarakat, pencegahan serta koordinasi lintas sektor terus diperkuat.
Ahmad juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar. Aktivitas tersebut berpotensi memicu kebakaran yang lebih luas dan berdampak terhadap kualitas udara.
“Kami mengajak seluruh unsur untuk terus memperkuat sinergi, terutama dalam patroli, pemantauan hotspot, pemadaman dini, dan edukasi kepada masyarakat,” tegasnya.
Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api atau aktivitas yang berpotensi memicu Karhutla.
BPB-PK Provinsi Kalimantan Tengah selanjutnya akan terus memantau perkembangan hotspot, memperkuat koordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota, serta mengoptimalkan sumber daya untuk memastikan setiap kejadian Karhutla dapat ditangani secara cepat dan terkoordinasi.





















