kaltengpedia.com – Kuala Kurun – Pemerintah Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah, menaikkan status penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari Siaga 2 menjadi Tanggap Darurat. Kebijakan tersebut diambil setelah sejumlah indikator menunjukkan kondisi karhutla dan dampaknya semakin memburuk.
Bupati Gunung Mas Jaya S Monong mengatakan status Tanggap Darurat berlaku selama satu bulan, terhitung mulai 1 hingga 30 September 2026.
“Keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan perkembangan kondisi karhutla, kualitas udara, jumlah titik panas atau hotspot, dampak terhadap kesehatan masyarakat, hingga jarak pandang di wilayah Gumas,” kata Jaya seusai memimpin rapat di Kuala Kurun, Selasa.
Berdasarkan data yang dibahas dalam rapat, tingkat risiko bencana karhutla di Gunung Mas berada pada kategori tinggi. Kondisi tersebut diperkuat prakiraan curah hujan periode September hingga November 2026 yang bervariasi dari rendah hingga tinggi.
Memasuki September, curah hujan diperkirakan berada pada kriteria rendah dengan sifat hujan kategori bawah normal. Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko karhutla dalam satu bulan ke depan.
Jumlah hotspot juga menjadi salah satu pertimbangan utama. Sepanjang Januari hingga 30 Agustus 2026 tercatat 3.429 titik panas, dengan estimasi luas lahan terbakar mencapai 1.714,5 hektare.
Khusus periode 29 hingga 30 Agustus 2026, terdapat 112 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi. Sementara itu, kejadian karhutla yang berhasil ditangani sepanjang Januari hingga 30 Agustus mencapai 75 titik dengan estimasi luas lahan terbakar sekitar 143,443 hektare.
Kondisi semakin berisiko karena data Fine Fuel Moisture Code (FFMC) periode 31 Agustus hingga 7 September 2026 menunjukkan lahan di Gunung Mas berada pada level sangat mudah terbakar.
Dampak karhutla juga dirasakan masyarakat. ISPU pada 30 hingga 31 Agustus tercatat berada pada kategori berbahaya dengan nilai lebih dari 300.
Kabut asap turut mengganggu jarak pandang. Pada 27 Agustus, pengamatan visual di Bandar Udara Kuala Kurun mencatat jarak pandang kurang dari 500 meter sehingga pesawat Susi Air batal mendarat.
Di sektor kesehatan, Dinas Kesehatan Gunung Mas mencatat 645 laporan ISPA sepanjang 8 hingga 29 Agustus 2026. Sementara itu, Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga memberlakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di sejumlah sekolah akibat kabut asap.
Pemkab Gunung Mas menyiapkan sejumlah langkah, termasuk pengerahan alat berat, pengalihan sementara kendaraan dobel kabin, serta pelibatan aparatur sipil negara yang memenuhi syarat.
Sebanyak 35 unit kendaraan juga disiapkan untuk mendukung penanganan di lapangan. Kendaraan tersebut dilengkapi tandon air, mesin pompa, dan selang untuk mempercepat proses pemadaman.
Jaya meminta seluruh unsur pemerintah dan masyarakat ikut terlibat dalam penanganan karhutla. Menurutnya, penanganan tidak dapat hanya mengandalkan BPBD karena personel di lapangan telah bekerja keras dan mulai kewalahan menghadapi luasnya wilayah terdampak.
“Saya mengajak seluruh unsur pemerintah dan masyarakat Gumas untuk bergotong royong menghadapi bencana karhutla yang terus mengancam wilayah kita,” ujarnya.





















