Kaltengpedia.com – PALANGKA RAYA — Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih memengaruhi aktivitas penerbangan di Bandara Tjilik Riwut, Palangka Raya, Kalimantan Tengah.
Meski demikian, operasional penerbangan hingga 1 September 2026 masih berjalan. Penyesuaian dilakukan apabila jarak pandang atau visibility mengalami penurunan.
General Manager Kantor Cabang Bandara Tjilik Riwut, I Made Darmawan, mengatakan penerbangan secara umum tetap berjalan dengan mekanisme penundaan maupun penjadwalan ulang ketika kondisi jarak pandang menurun.
“Secara umum penerbangan tetap berjalan dengan penyesuaian (delay/reschedule) saat visibilitas menurun,” kata I Made Darmawan, dikutip ANTARA, Selasa (1/9/2026).
Namun, jika kondisi semakin ekstrem dan jarak pandang turun di bawah ambang batas keselamatan untuk proses lepas landas maupun pendaratan, penerbangan dapat dibatalkan atau dialihkan.
Kondisi tersebut sempat terjadi pada 29–31 Agustus 2026. Pada periode itu, jarak pandang pagi hari dilaporkan hanya berkisar 250–800 meter, bahkan pada salah satu kondisi sebelumnya jarak pandang di sekitar bandara sempat mencapai sekitar 300 meter.
20 Gangguan Penerbangan Sejak Akhir Juli
Data pemantauan Bandara Tjilik Riwut menunjukkan gangguan operasional akibat jarak pandang rendah bukan hanya terjadi dalam satu atau dua hari.
Dalam periode 27 Juli–31 Agustus 2026, tercatat sekitar 20 kejadian gangguan operasional penerbangan akibat visibilitas berada di bawah batas minimal.
Rinciannya:
| Bentuk Gangguan | Jumlah |
|---|---|
| Pembatalan penerbangan | 8 kejadian |
| Dialihkan (divert) ke Balikpapan | 4 kejadian |
| RTB/kembali ke bandara asal | 2 kejadian |
| Go around/waiting at origin | 2 kejadian |
| Keterlambatan (delay) | 4 kejadian |
| Total | 20 kejadian |
Puncak gangguan terjadi pada 30–31 Agustus 2026. Sejumlah penerbangan dari beberapa maskapai, di antaranya IU, QG, JT, GA, ID dan SI, mengalami pembatalan maupun pengalihan secara beruntun ketika jarak pandang turun di bawah 1.000 meter.
Pada Minggu, 30 Agustus, kondisi bahkan menyebabkan sejumlah penerbangan dari Surabaya, Jakarta dan Semarang menuju Palangka Raya serta beberapa penerbangan keberangkatan dari Palangka Raya dibatalkan.
Awal September Mulai Membaik, Tapi Masih Fluktuatif
Memasuki awal September, kondisi jarak pandang mulai menunjukkan perbaikan.
Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya stabil. Pada 1 September 2026 pukul 08.00 WIB, visibilitas tercatat sekitar 1.300 meter.
Artinya, meski jauh lebih baik dibanding kondisi terparah pada 29–31 Agustus, kabut asap masih menjadi faktor yang harus diperhitungkan dalam operasional penerbangan.
Pihak bandara juga dapat melakukan penyesuaian jam operasional apabila diperlukan oleh maskapai.
Untuk penumpang yang mengalami keterlambatan akibat bencana karhutla, Bandara Tjilik Riwut menyediakan service recovery secara gratis di area ruang tunggu.
Bandara juga menyampaikan perkembangan operasional secara berkala melalui koordinasi dengan maskapai dan pemangku kepentingan terkait.
Sekitar 2.397 Penumpang Per Hari
Di tengah gangguan akibat kabut asap, frekuensi penerbangan Bandara Tjilik Riwut saat ini masih sekitar 10 frekuensi penerbangan dengan berbagai rute.
Sepanjang Agustus 2026, rata-rata terdapat sekitar 2.397 penumpang per hari yang menggunakan layanan penerbangan di bandara tersebut.
Rute yang tersedia antara lain:
- Jakarta (CGK)
- Surabaya (SUB)
- Semarang (SRG)
- Yogyakarta (YIA)
- Balikpapan (BPN)
- Kuala Pembuang
- Muara Teweh
- Puruk Cahu
Sementara itu, calon penumpang diimbau terus memantau informasi terbaru dari maskapai masing-masing karena perubahan jadwal dapat dilakukan menyesuaikan kondisi jarak pandang.
Kabut asap belum membuat Bandara Tjilik Riwut berhenti beroperasi. Namun, angka 20 gangguan penerbangan sejak akhir Juli menunjukkan bahwa karhutla kini bukan hanya persoalan kualitas udara, tetapi juga telah berdampak langsung terhadap konektivitas dan mobilitas masyarakat melalui jalur udara.





















