Kaltengpedia.com – BUNTOK — Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla)
mulai memberi dampak serius terhadap kesehatan masyarakat di Kabupaten Barito Selatan,
Kalimantan Tengah.
Dinas Kesehatan Barito Selatan mencatat kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan
infeksi saluran pernapasan lainnya mengalami peningkatan tajam dalam dua bulan terakhir.
Data yang dihimpun dari seluruh puskesmas dan rumah sakit di Barito Selatan menunjukkan,
kasus infeksi saluran pernapasan yang pada Juni 2026 tercatat 584 kasus, meningkat menjadi
953 kasus pada Juli, kemudian kembali naik menjadi 1.123 kasus pada Agustus 2026.
Artinya, dalam dua bulan, jumlah kasus meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan kondisi
pada Juni.
Kepala Dinas Kesehatan Barito Selatan, dr. Dadang Baskoro Nugroho, mengatakan
peningkatan paling drastis mulai terlihat sejak Juli. Menurutnya, kondisi tersebut terjadi di
tengah paparan kabut asap akibat karhutla.
Sebagian besar kasus masih ditangani di tingkat puskesmas, terutama keluhan seperti flu,
batuk, pilek, faringitis, dan tonsilitis.
Namun, kasus dengan kondisi lebih berat seperti pneumonia serta penyakit paru obstruktif
kronis (PPOK), termasuk bronkitis kronis dan emfisema, umumnya membutuhkan penanganan
di rumah sakit.
Lonjakan Kasus Beriringan dengan Karhutla
Peningkatan kasus ISPA menjadi salah satu indikator dampak karhutla yang tidak hanya
berkaitan dengan kualitas udara, tetapi juga kesehatan warga.
Dinkes Barito Selatan kini memperkuat pelayanan kesehatan melalui kolaborasi antara fasilitas
kesehatan, pemerintah daerah, RSUD Jaraga Sasameh, dan 12 puskesmas.
Posko kesehatan juga disiagakan di setiap fasilitas pelayanan kesehatan sebagai langkah
antisipasi menghadapi kemungkinan bertambahnya warga yang mengalami gangguan
pernapasan.
Selain itu, fasilitas khusus penanganan gangguan respirasi turut disiapkan. Salah satunya
melalui rumah oksigen yang sebelumnya telah diresmikan pemerintah daerah.
Juni 584, Juli 953, Agustus 1.123 Kasus
Bulan 2026 Kasus Juni 584,Juli 953.
Bulan 2026 Kasus Agustus 1.123
Jika dibandingkan dengan Juni, jumlah kasus pada Agustus bertambah 539 kasus atau sekitar
92 persen.
Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan karhutla tidak berhenti pada luas lahan yang
terbakar atau pekatnya kabut asap. Dampaknya juga mulai tercermin pada meningkatnya
kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat.
Pemerintah daerah bersama seluruh unsur terkait kini dituntut untuk tidak hanya memperkuat
penanganan warga yang sudah terdampak, tetapi juga mempercepat pengendalian karhutla agar
paparan asap tidak semakin meluas.





















