kaltengpedia.com – Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng) Agustiar Sabran memantau langsung pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi siswa SMA, SMK, dan Sekolah Khusus (SKh) di tengah kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Pemantauan dilakukan melalui Media Center Posko Penanganan Darurat Karhutla di halaman Istana Isen Mulang, Palangka Raya. Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Agustiar menyapa para siswa sekaligus melihat proses pembelajaran yang berlangsung secara daring.
Salah satu sekolah yang dipantau adalah SMA Negeri 1 Tewah, Kabupaten Gunung Mas, pada Rabu (2/9/2026).
Agustiar mengatakan, penerapan PJJ tidak seharusnya menjadi alasan bagi siswa untuk mengurangi semangat belajar. Menurutnya, efektivitas pembelajaran sangat bergantung pada kemauan dan tekad siswa dalam mengikuti proses pendidikan.
“Tidak ada perbedaan. Sebenarnya tergantung dari niat anak-anakku sekalian. Kemauannya, tekadnya, di manapun tempatnya belajar,” ujar Agustiar di Palangka Raya, Kamis (3/9/2026).
Ia berharap para siswa tetap disiplin mengikuti pembelajaran meskipun kegiatan belajar mengajar sementara tidak dilakukan secara tatap muka di sekolah.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kalteng Reza Prabowo menegaskan bahwa PJJ bukan berarti mengurangi kedisiplinan maupun tanggung jawab dalam proses pendidikan.
Menurut Reza, kondisi karhutla justru menjadi momentum untuk memastikan pembelajaran tetap berjalan dengan memanfaatkan teknologi, sekaligus mengutamakan kesehatan dan keselamatan siswa.
“PJJ bukan berarti mengurangi kedisiplinan dan tanggung jawab dalam proses pendidikan,” katanya.
Untuk mendukung pembelajaran selama kondisi darurat karhutla, Disdik Kalteng memanfaatkan sejumlah fasilitas teknologi, di antaranya Kelas Digital Huma Betang, TV Interaktif, hingga dukungan konektivitas Starlink.
Fasilitas tersebut digunakan untuk menjaga layanan pendidikan tetap berjalan, termasuk bagi sekolah yang berada di wilayah dengan kondisi khusus akibat karhutla.
Reza juga mengingatkan bahwa kondisi kualitas udara dan dampak karhutla dapat berbeda di setiap wilayah. Karena itu, komunikasi antara sekolah, siswa, dan pemerintah menjadi penting dalam menentukan langkah pembelajaran.
“Kami mengingatkan kondisi di setiap wilayah dapat berbeda, sehingga informasi dari sekolah dan siswa penting dalam menentukan langkah pembelajaran maupun pemantauan di lapangan,” ujarnya.
Melalui pemantauan secara langsung, Disdik Kalteng tidak hanya memastikan kegiatan PJJ tetap berlangsung, tetapi juga memperoleh gambaran mengenai kondisi siswa di daerah yang terdampak kabut asap.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah menjaga keberlangsungan pendidikan sekaligus melindungi kesehatan siswa selama penanganan karhutla masih berlangsung.





















