BKSDA Selamatkan Induk dan Anak Orangutan dari Kepungan Karhutla di Kotim

Dok. Istimewa

kaltengpedia.com – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah (Kalteng) menyelamatkan seekor induk orangutan bersama anaknya yang bertahan di atas pohon di tengah kawasan lahan gambut yang baru terbakar di Jalan Sawit Raya, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur.

Kedua orangutan tersebut ditemukan setelah anggota TNI bernama Husin yang sedang melakukan patroli kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melihat adanya satwa yang terjebak di kawasan bekas kebakaran.

Komandan BKSDA Resort Sampit, Muriansyah, mengatakan laporan tersebut diterima pada Rabu (2/9) sekitar pukul 11.00 WIB. Ia kemudian bersama anggota TNI menuju lokasi untuk memastikan keberadaan orangutan.

“Awalnya kami mendapat laporan dari anggota TNI bernama Husin yang sedang melakukan patroli kebakaran hutan dan lahan, ada satu individu orangutan yang terjebak di areal bekas kebakaran,” kata Muriansyah di Sampit, Kamis.

Upaya penyelamatan tidak mudah. Area di bawah pohon masih terbakar dan di sejumlah titik petugas menemukan bara serta nyala api. Kondisi tersebut membuat tim harus berhati-hati saat mendekati lokasi.

BKSDA kemudian berkoordinasi dengan Seksi Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah II Pangkalan Bun. Tim BKSDA bersama Orangutan Foundation International (OFI) selanjutnya bergerak menuju lokasi untuk melakukan evakuasi.

Penyelamatan dilakukan pada malam hari dalam kondisi minim penerangan. Petugas hanya mengandalkan senter dan lampu portabel untuk menjalankan operasi.

Saat tiba di lokasi, tim menemukan fakta bahwa orangutan yang terjebak bukan hanya satu. Terdapat seekor induk dan anak orangutan yang bertahan di atas pohon.

Setelah seluruh peralatan disiapkan, proses evakuasi dilakukan dengan pembiusan. Keduanya kemudian berhasil diturunkan dari atas pohon dan langsung diperiksa oleh dokter hewan OFI.

Proses penyelamatan berlangsung sekitar 47 menit, mulai pukul 21.00 WIB hingga 21.47 WIB. Dalam waktu kurang dari satu jam, kedua satwa berhasil dievakuasi dari kawasan yang masih dikepung sisa kebakaran.

Induk orangutan tersebut kemudian diberi nama Raya, sedangkan anaknya diberi nama Rayu. Nama tersebut diambil dari lokasi penyelamatan di kawasan Jalan Sawit Raya.

Dokter hewan OFI, Ichlasul Khaerul, mengatakan kondisi Raya dan Rayu secara umum masih baik setelah dievakuasi. Keduanya masih menunjukkan respons dan aktivitas selama proses penyelamatan.

“Alhamdulillah, setelah kami melakukan evakuasi, evaluasi dan observasi terhadap orangutan yang kami rescue kondisinya masih terlihat baik,” ujarnya.

Meski demikian, keduanya diperkirakan sempat terpapar asap akibat kebakaran di sekitar lokasi. Namun, berdasarkan pemeriksaan awal, paparan asap belum menunjukkan dampak berat.

Ichlasul menjelaskan kondisi orangutan yang masih aktif dan mampu memberikan respons menjadi salah satu indikator bahwa dampak paparan asap belum tergolong serius.

Tim juga telah menyiapkan oksigen sebagai langkah antisipasi apabila kedua satwa mengalami gangguan pernapasan. Namun, oksigen tersebut akhirnya tidak perlu digunakan.

Hasil pemeriksaan fisik juga tidak menemukan luka bakar maupun luka terbuka pada tubuh Raya dan Rayu. Tidak ditemukan pula cedera akibat benturan, patahan pohon, ataupun benda lain selama keduanya berada di kawasan terdampak kebakaran.

Raya diperkirakan berusia sekitar 20 tahun berdasarkan kondisi dan pertumbuhan giginya. Sementara Rayu diperkirakan baru berusia sekitar satu tahun dan berjenis kelamin betina.

Tim turut mengambil sampel darah dan rambut untuk pemeriksaan lebih lanjut. Sampel feses belum diperoleh karena Rayu dan Raya kemungkinan belum buang air besar selama proses evakuasi.

“Kemungkinan ada dehidrasi, tetapi tidak separah itu. Kami sudah mengambil sampel darah dan rambut, sedangkan sampel feses akan kami upayakan setelah dia makan,” kata Ichlasul.

Pemeriksaan terhadap lingkar perut dan rongga dada juga tidak menunjukkan tanda kekurangan kondisi tubuh yang berat. Tulang-tulang tubuh kedua orangutan tidak terlihat menonjol secara jelas.

Selanjutnya, BKSDA akan menentukan langkah berikutnya berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan. Jika dinyatakan sehat dan memenuhi syarat, Raya dan Rayu akan segera ditranslokasikan untuk kemudian dilepasliarkan ke habitat yang sesuai.

Dua lokasi yang menjadi pilihan pelepasliaran adalah Taman Nasional Tanjung Puting dan Suaka Margasatwa Lamandau.

Penyelamatan ini menjadi bagian penting dalam upaya perlindungan satwa liar di tengah ancaman karhutla yang tidak hanya membahayakan manusia, tetapi juga menghancurkan habitat dan mengancam keselamatan satwa yang berada di kawasan terdampak kebakaran.

Pos terkait