kaltengpedia.com – Luas lahan yang terbakar akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kalimantan Tengah sepanjang 2026 mencapai 7.634,46 hektare. Angka tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat 4.803,99 hektare.
Berdasarkan data yang dihimpun dari Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Sipongi) Kementerian Kehutanan (SIPONGI KEMENHUT). luas areal terbakar per kabupaten/kota, terjadi kenaikan sekitar 2.830,47 hektare atau 58,91 persen dibandingkan 2025.
Kabupaten Sukamara menjadi daerah dengan luas lahan terbakar terbesar pada 2026, yakni mencapai 3.562,16 hektare. Luasan tersebut setara sekitar 46,65 persen dari total luas areal terbakar di Kalimantan Tengah berdasarkan data tersebut.
Posisi berikutnya ditempati Kabupaten Kotawaringin Timur dengan luas 851,39 hektare, disusul Barito Selatan 846,08 hektare, Seruyan 696,85 hektare, dan Katingan 507,17 hektare.
Sementara Kabupaten Kapuas mencatat luas lahan terbakar 442,43 hektare. Kemudian Lamandau 201,01 hektare, Pulang Pisau 123,80 hektare, Barito Utara 119,53 hektare, dan Palangka Raya 117,03 hektare.
Daerah lainnya yang tercatat mengalami Karhutla pada 2026 meliputi Gunung Mas dengan 81,80 hektare, Kotawaringin Barat 70,97 hektare, serta Barito Timur 14,24 hektare. Sementara Murung Raya tercatat tidak memiliki luas areal terbakar dalam data 2026.
Peningkatan luas areal terbakar secara keseluruhan terjadi setelah pada 2025 total luas Karhutla tercatat 4.803,99 hektare. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ancaman kebakaran masih menjadi persoalan yang membutuhkan penanganan secara terpadu, khususnya pada wilayah dengan luasan terbakar cukup besar.
Jika dibandingkan dengan 2025, peningkatan paling signifikan terlihat di Sukamara. Luas areal terbakar di daerah tersebut sebelumnya tercatat 89,05 hektare, kemudian meningkat menjadi 3.562,16 hektare pada 2026.
Kenaikan juga tercatat di Seruyan, dari 207,92 hektare pada 2025 menjadi 696,85 hektare pada 2026. Barito Selatan meningkat dari 390,34 hektare menjadi 846,08 hektare, sedangkan Kotawaringin Timur naik dari 685,93 hektare menjadi 851,39 hektare.
Di sisi lain, sejumlah daerah mencatat penurunan luas areal terbakar. Barito Utara turun dari 533,13 hektare pada 2025 menjadi 119,53 hektare pada 2026. Murung Raya juga turun dari 293,07 hektare menjadi nol berdasarkan data tersebut.
Data tersebut menjadi gambaran penting bagi pemerintah daerah dalam menentukan prioritas pencegahan dan penanganan Karhutla. Penguatan patroli, pemantauan titik panas, kesiapan personel, ketersediaan sarana pemadaman, serta koordinasi lintas sektor menjadi bagian penting untuk mengantisipasi peningkatan kebakaran.
Dengan luas areal terbakar yang telah mencapai ribuan hektare, upaya pencegahan juga membutuhkan keterlibatan masyarakat. Pemerintah diharapkan terus mengedukasi masyarakat mengenai risiko pembukaan lahan dengan cara membakar yang dapat memicu kebakaran meluas, terutama saat kondisi kemarau.





















