Udara Kalteng Makin Tak Sehat, Ribuan Warga Kini Berhadapan dengan Dampak Karhutla

Dok. Istimewa

Kaltengpedia.com – PALANGKA RAYA — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah mulai meninggalkan persoalan yang lebih luas. Selain api dan lahan terbakar, masyarakat kini harus berhadapan dengan kabut asap serta penurunan kualitas udara.

Dampaknya mulai terlihat pada sektor kesehatan. Sebanyak 3.734 warga Kalteng dilaporkan terserang ISPA ketika sejumlah wilayah provinsi ini menghadapi kondisi udara yang terdampak asap karhutla.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan karhutla tidak berhenti ketika api berhasil dipadamkan. Asap yang terbawa angin dapat menyelimuti permukiman, mengurangi jarak pandang dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan bagi masyarakat.

Data sebelumnya menunjukkan hingga pertengahan Agustus, aktivitas karhutla masih terjadi di berbagai wilayah Kalteng. BMKG mencatat 645 titik panas hingga 14 Agustus, dengan konsentrasi tertinggi berada di Kotawaringin Timur sebanyak 189 titik dan Kapuas 114 titik.

Sejumlah wilayah juga sempat mengalami kualitas udara dalam kategori tidak sehat. Katingan dan Barito Selatan tercatat berada dalam kategori Tidak Sehat, sementara beberapa daerah lainnya masuk kategori Tidak Sehat bagi kelompok sensitif.

Di Palangka Raya, kabut asap juga berdampak langsung terhadap masyarakat. Data Puskesmas Bukit Hindu menunjukkan 257 kasus ISPA tercatat selama 1–18 Agustus 2026, lebih tinggi dibandingkan 192 kasus pada Juli.

Situasi ini menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla bukan hanya soal mengejar titik api. Kualitas udara dan kesehatan masyarakat harus menjadi ukuran utama keberhasilan penanganan karhutla.

Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika asap semakin pekat dan menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar rumah.

Kini pertanyaannya, sampai kapan warga Kalteng harus menghirup udara yang tercemar asap karhutla?

Pos terkait