kaltengpedia.com – Beberapa waktu lalu Sebuah video viral memperlihatkan Bupati Katingan, Saiful, menunjukkan kepiawaiannya bermain catur saat membuka Turnamen Catur Bupati Cup Katingan 2025. Dalam tayangan tersebut, Saiful berhasil meraih lima kemenangan beruntun tanpa kekalahan, menuai pujian atas kemampuannya di papan catur. Namun, pujian itu tidak serta merta berlanjut saat membahas soal pembangunan di Kabupaten Katingan.
Sorotan tajam justru datang dari warganet, salah satunya akun TikTok bernama Tomy Alfarizy, yang memposting kondisi jalan dan jembatan rusak di wilayah Katingan. Dalam unggahannya, Tomy menyisipkan sindiran pedas:
“Ngarahin bidak caturnya sudah mahir Pak Bupati, tinggal ngarahin pembangunan Katingan yang merata dan berkeadilan aja lagi. Masyarakat menunggu.”
Komentar tersebut langsung disambut respons dari pengguna lain yang mengeluhkan infrastruktur rusak, terutama ruas jalan Kasongan–Samba dan akses ke wilayah pedalaman.
“Jalan ke kampung saya, Batu Badak sana, rusaknya minta ampun. Tolong diperhatikan Pak Bupati,” tulis salah satu pengguna.
Sindiran dan keluhan tersebut membuka kembali pertanyaan mendasar: Apakah Bupati Saiful telah gagal dalam memainkan peran utamanya sebagai kepala daerah?
Dalam permainan catur, strategi dan visi ke depan sangat penting. Setiap langkah memiliki konsekuensi, seperti halnya dalam memimpin daerah. Ketika Saiful piawai menggerakkan bidak catur, warganet justru menilai ia belum piawai menggerakkan roda pembangunan yang dirasa lamban, timpang, dan tidak merata.
Padahal, jalan dan jembatan merupakan urat nadi pergerakan ekonomi masyarakat. Buruknya kondisi infrastruktur di sejumlah desa dan kecamatan bukan hanya menghambat mobilitas warga, tetapi juga memperlebar kesenjangan akses dan pembangunan antarwilayah.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari Pemerintah Kabupaten Katingan menanggapi kritik-kritik tersebut. Namun, gelombang suara publik ini menunjukkan adanya ekspektasi tinggi terhadap pemimpin yang tidak hanya tampil simbolik di ajang seremonial, tetapi juga hadir nyata dalam menyelesaikan persoalan riil masyarakat.
Masyarakat kini menanti bukan sekadar langkah di papan catur, tetapi langkah konkret di lapangan pembangunan.






















