kaltengpedia.com -Penundaan Musyawarah Daerah (Musda) XI Partai Golkar Kalimantan Tengah yang sedianya digelar pada 3 Agustus 2025 menyisakan tanda tanya besar. Secara resmi, alasan yang disampaikan adalah padatnya jadwal Ketua Umum Golkar, Bahlil Lahadalia. Namun, di balik layar, aroma lobi politik tercium kuat.
Dua nama yang santer disebut berebut kursi Ketua DPD Golkar Kalteng periode 2025–2030 adalah Wakil Gubernur Kalteng, Edy Pratowo, dan Wali Kota Palangka Raya, Fairid Naparin. Keduanya memiliki basis dukungan signifikan dan dianggap mampu memimpin partai berlambang pohon beringin itu di Bumi Tambun Bungai.
Peta dukungan saat ini menunjukkan Fairid unggul telak. Ketua DPD Golkar Kotawaringin Barat, Wisman, secara terbuka menyatakan dukungan kepada Fairid dalam pertemuan di Palangka Raya, Kamis (24/7/2025). Dukungan tersebut membuat Fairid kini mengantongi 12 dari total 14 suara DPD kabupaten/kota se-Kalteng.
“Kami mencalonkan dan mendukung Saudara Fairid Naparin sebagai calon Ketua Golkar Kalteng. Beliau memiliki kapasitas, pengalaman, dan visi untuk membawa Golkar Kalteng lebih maju,” kata Wisman.
Sementara itu, Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bapillu) DPD Golkar Kota Palangka Raya, Fajri, mengonfirmasi bahwa tujuh dukungan sudah disampaikan secara tertulis. Dengan 20 pemilik suara sah di Musda, posisi Fairid secara matematis sudah melebihi ambang 50 persen plus satu suara—syarat untuk terpilih secara aklamasi.
Meski demikian, kontestasi diperkirakan tetap kompetitif. Edy Pratowo, kader senior yang berpengalaman di legislatif dan eksekutif, diyakini tidak akan menyerah begitu saja.
Gubernur Kalteng Agustiar Sabran bahkan sempat melempar wacana kompromi politik: jika Fairid memimpin, Edy bisa menjadi Ketua Harian, atau sebaliknya. Namun, posisi Ketua Harian DPD Golkar Kalteng diketahui selama ini tidak diisi, sehingga usulan ini memunculkan tanda tanya baru.
Penundaan Musda akhirnya menjadi momen strategis bagi kubu-kubu yang bertarung untuk mengunci dukungan hingga ke detik terakhir. Publik kini menunggu: apakah Golkar Kalteng akan melahirkan ketua baru secara aklamasi, atau justru terbelah dalam voting sengit?






















