kaltengpedia.com – Palangka Raya – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya bersama tim gabungan membangun sejumlah titik sumur bor di sekitar lokasi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Langkah tersebut dilakukan untuk mengatasi keterbatasan sumber air sekaligus mempercepat proses pemadaman di lokasi kebakaran.
Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana BPBD Kota Palangka Raya, Hendrikus Satriya Budi, mengatakan ketersediaan air menjadi salah satu kendala dalam penanganan Karhutla, terutama saat musim kemarau.
Menurutnya, sumur bor dibangun lebih dekat dengan lokasi kebakaran agar petugas dapat memperoleh sumber air secara lebih cepat. Kondisi tersebut dinilai penting untuk mendukung pemadaman sekaligus pembasahan lahan.
“Pembuatan sumur bor ini kami lakukan untuk mendukung proses pemadaman karena persoalan yang kami hadapi adalah keterbatasan sumber air,” kata Hendrikus.
BPBD Palangka Raya dalam upaya tersebut bekerja sama dengan Manggala Agni Daops Palangka Raya dan Universitas Palangka Raya. Sumber air yang berada di dekat titik kebakaran diharapkan mengurangi ketergantungan terhadap mobil tangki yang harus mengambil air dari embung atau sumber lain yang lokasinya cukup jauh.
Hendrikus menilai pola tersebut lebih efektif, terutama pada kawasan yang memiliki karakteristik lahan gambut.
Lahan gambut memiliki potensi api menjalar hingga lapisan bawah permukaan tanah. Karena itu, api yang terlihat padam di permukaan belum tentu menandakan seluruh titik panas telah hilang.
Pemadaman kemudian harus dilanjutkan dengan pembasahan secara menyeluruh untuk mencegah bara kembali menyala.
Data BPBD Kota Palangka Raya mencatat 195 kejadian Karhutla sepanjang periode 1 Juni hingga 10 Agustus 2026. Total luas lahan yang terbakar mencapai 174,24 hektare.
Kecamatan Jekan Raya menjadi wilayah dengan kejadian terbanyak, yakni 123 kejadian. Selanjutnya Kecamatan Sebangau sebanyak 48 kejadian, Pahandut 18 kejadian, dan Bukit Batu enam kejadian. Sementara Kecamatan Rakumpit tercatat nihil kejadian.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Palangka Raya, Heri Fauzi, mengatakan data tersebut menjadi dasar penting dalam memperkuat langkah pencegahan dan penanganan di wilayah rawan.
Pembangunan sumur bor diharapkan dapat mempercepat respons petugas ketika kebakaran kembali terjadi, khususnya di lokasi yang sulit mendapatkan pasokan air.
Selain penanganan di lapangan, BPBD juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar.
Masyarakat diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api maupun aktivitas pembakaran lahan. Pelaporan lebih awal dinilai penting agar petugas dapat melakukan penanganan sebelum api meluas.
Dengan penguatan sumber air, patroli, pemantauan serta respons cepat, BPBD Palangka Raya berupaya menekan risiko meluasnya Karhutla selama periode kemarau 2026.





















