kaltengpedia.com – Festival Budaya Isen Mulang merupakan event tahunan dalam rangka memperingati Hari Ulang provinsi Kalimantan Tengah. Sesuai dengan nama Festival Budaya Isen Mulang yang dimana dalam momentum tersebut menampilkan kebudayaan adat terkhususnya adat Dayak yang ada di Kalimantan Tengah itu sendiri.
Namun sangat disayangkan pada moment karnaval FBIM kali ini justru memenangkan karnaval kebudayaan diluar dari kebudayaan adat Dayak. Hal ini sangat disorot tajam oleh pengurus Tariu Borneo Bangkule Rajakng Kalimantan Tengah, pihaknya sangat menyanyangkan bahwa yang seharusnya momentum ini adalah untuk mengangkat budaya Isen Mulang Kalimantan Tengah yaitu budaya Dayak malah bukan menjadi juara umum dalam moment FBIM.
Salah satu ketua DPD TBBR dari Kab. Katingan Ellie U. Sujad sangat menyayangi akan hal tersebut, Ia mengatakan bahwa dengan penilaian Panitia yang justru menjadikan kebudayaan luar sebagai pemenang karnaval secara tidak langsung akan menenggelamkan semangat dari seluruh rekan rekan yang benar benar ingin mengangkat, melestarikan budaya lokal suku Dayak yang ada di Kalimantan Tengah.
“Terkait Festival Budaya Isen Mulang, Kita sepakat TBBR itu menjaga adat budaya tradisi, digali, dipelihara dilestarikan, kalo seperti ini sebaiknya dirubah saja judulnya menjadi festival budaya” ucapnya.
“Kami sangat tidak sepakat terkait Festival Budaya Isen Mulang yang juara malah bukan kebudayaan Isen Mulang dan itu sangat sangat keliru”
Ellie juga mengungkapkan kekeliruan dari kegiatan tersebut dan serta bukan berarti dengan sorotan tajam ini menjadi sebuah kepanatisan terhadap budaya luar, namun harus ada penempatan khusus.
“Ini sangat keliru dan berdampak fatal, kita sangat paham terkait budaya adat Dayak yang ada di Kalteng, jadi bukan kita panatik ya, tapi ada tempat – tempat yang memang mereka bisa ikut, contohnya perayaan 17 Agustus, kegiatan nasional, namun ini kan sesuai dengan namanya artinya kegiatannya secara khusus, mereka boleh ikut namun hanya sekedar untuk ikut memeriahkan atau pastisipan. Jadi kalo diikutsertakan dalam lomba karnaval menurut kami ini sangat keliru karena tidak sejalan dengan tema atau nama kegiatan”. Pungkasnya
Hal senada pun dilontarkan oleh ketua DPW TBBR Kalteng, Agusta Rachman, S.T. hal ini menjadi sebuah masukan bagi pemerintah daerah untuk kedepan agar moment kegiatan seperti hal ini lebih mengangkat kebudayaan lokal adat Dayak yang ada di kalteng.
“Harusnya pemerintah daerah menyadari mereka itukan semestinya hanya sebagai partisipan saja bukan malah dimasukan dalam kategori perlombaan yang dimana notabenenya adalah kebudayaan Isen Mulang yang harus di prioritaskan dan ditonjolkan” ungkapnya
Ia juga mengungkapkan bahwa ini bukan persoalan perasaan, namun mutlak adalah kekeliruan yang dimana antara judul dan pemenang dalam perlombaan yang ditampikan sangat sangat bertolak belakang.
“Jadi hal seperti ini sama saja kita kalah dalam mempertahankan adat budaya Kita, karena pemerintah daerah sangat penuh dengan perasaan dalam mengikutsertakan kebudayaan luar, namun ini bukan persoalan perasaan tetapi persoalan Judul kegiatan yang hasil perlombaan nya malah dimenangkan oleh kebudayaan luar menjadi juara umumnya, disinilah letak kesenjangannya”. Tutur Agusta.
Selain itu Urbanus salah satu Ketua DPD TBBR dari Kabupaten Gunung Mas juga turut menyatakan sikap, Ia mengkritisi kegiatan FBIM yang semestinya kegiatan tersebut bertajuk budaya lokal khas Kalimantan Tengah yaitu budaya Dayak seharusnya yang dinilai dan dimenangkan pun adalah kebudayaan lokal Kalteng itu sendiri
“Festival Budaya Isen Mulang itu seperti yang kita ketahui dan pahami bersama adalah festival budaya yang lokal yang ada di lingkup Kalteng artinya kebudayaan adat Dayak lah yang harusnya lebih di tonjolkan. Dan jika dirunut dari namanya kegiatan ini akan menjadi sebuah kegiatan yang sakral dan khsus dalam artian unutk mengangkat, melestarikan serta mempertahankan adat budaya suku Dayak itu sendiri” ucapnya
Sekretaris TBBR Kalteng Daniel Olan juga menambahkan bahwa hal ini jangan sampai menjadi pewajaran dimana kegiatan yang seharusnya bertajuk budaya Isen Mulang budaya Dayak namun dalam perlombaan karnaval dimenangkan oleh kebudayaan luar.
“Jangan sampai ini diwajarkan pengalkuturasian budaya yang saya anggap ini berlebihan lantaran kita ingin menghargai budaya lain malah menenggelamkan semangat juang kita dalam mengangkat budaya kita sendiri. Kita berharap kedepan pemprov harus benar benar memperhatikan ini serta memperbaiki kekeliruan dalam Kegiatan FBIM ini kedepan” pungkasnya
Pihaknya menyarakan agar hal tersebut menjadi masukan untuk panitia pelaksana kedepan lebih selektif melihat tema dan visi misi secara adat budaya kalteng dan untuk pemerintah daerah agar lebih bijaksana dalam menegaskan sebuah momentum pada suatu kegiatan dengan tema dan sub tema yg ada supaya dalam segala hal tidak dicampur aduk karena jati diri itu harus jelas serta tidak melakukan pemwajaran dan pembiaran






















