VIRAL : Terlantar di Kamboja, Warga Barito Selatan Mengaku Jadi Korban Iming-iming Kerja Bergaji Besar

Dok. Istimewa

Kaltengpedia – Palangka Raya – Nasib pilu dialami seorang warga Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah, yang mengaku terlantar di Phnom Penh, Kamboja, setelah menjadi korban dugaan penipuan berkedok tawaran pekerjaan di luar negeri.

Pria tersebut mengungkapkan dirinya berangkat pada tahun 2025 setelah menerima tawaran bekerja sebagai pekerja kebun di Malaysia dengan iming-iming gaji besar. Namun, setibanya di luar negeri, ia mengaku tidak pernah ditempatkan di Malaysia sebagaimana dijanjikan. Sebaliknya, ia dibawa ke Kamboja dan bekerja di sebuah perusahaan yang diduga terkait aktivitas penipuan daring atau online scam.

Dalam keterangannya kepada Kaltengpedia pada Kamis (25/6/2026), korban mengaku selama bekerja tidak pernah menerima gaji sebagaimana yang dijanjikan. Ia juga mengaku dipaksa bekerja dalam jam kerja yang panjang dengan tekanan tinggi untuk memenuhi target perusahaan.

“Kalau tidak mencapai target, kami mendapat hukuman dan tekanan. Kami juga diawasi ketat sehingga sulit untuk melarikan diri atau melapor,” ungkapnya.

Situasi tersebut membuat korban bersama sejumlah pekerja lainnya berada dalam kondisi yang serba terbatas. Ketakutan akan ancaman dan kemungkinan tindakan kekerasan membuat mereka tidak berani mengambil langkah untuk keluar dari lingkungan kerja tersebut.

Penderitaan korban semakin bertambah setelah perusahaan tempatnya bekerja dikabarkan berhenti beroperasi pada Januari 2026. Sejak saat itu, para pekerja disebut ditelantarkan tanpa kepastian nasib maupun dukungan dari pihak perusahaan.

Korban kemudian melaporkan kondisinya kepada Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Phnom Penh. Saat ini, ia berada di tempat penampungan yang disediakan sambil menunggu proses pemulangan ke Indonesia.

Namun demikian, keterbatasan ekonomi keluarga menjadi kendala utama dalam proses kepulangannya. Hingga kini, biaya tiket pesawat untuk kembali ke tanah air belum dapat dipenuhi.

Melalui pengakuannya, korban berharap Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah, Pemerintah Kabupaten Barito Selatan, serta instansi terkait dapat memberikan bantuan agar dirinya segera dipulangkan dan dapat berkumpul kembali dengan keluarga.

Kasus yang menimpa warga Barito Selatan ini kembali menjadi pengingat akan maraknya modus penawaran kerja ke luar negeri yang menjanjikan penghasilan besar, namun berujung pada dugaan eksploitasi tenaga kerja. Peristiwa tersebut juga menambah daftar panjang kasus warga negara Indonesia yang terjebak dalam praktik perekrutan ilegal dan dugaan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) di kawasan Asia Tenggara.

Pemerintah dan masyarakat diimbau untuk lebih berhati-hati terhadap tawaran pekerjaan di luar negeri yang tidak melalui jalur resmi serta selalu memastikan legalitas perusahaan maupun agen penyalur tenaga kerja sebelum memutuskan untuk berangkat bekerja ke luar negeri.

Pos terkait