Kotim Gali 12 Embung Hadapi Karhutla, Sumber Air Jadi Kunci di Tengah Ancaman Api

Dok : Istimewa

Kaltengpedia.com – SAMPIT – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan menambah sumber air melalui pengerukan dan pembangunan embung di sejumlah kawasan rawan kebakaran.

Langkah tersebut dilakukan Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, Bina Konstruksi, Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (SDABMBKPRKP) Kotim dengan mengerahkan alat berat secara bertahap.

Kepala Dinas SDABMBKPRKP Kotim Mentana Dhinar Tistama mengatakan pengerjaan embung merupakan bentuk dukungan pemerintah daerah untuk membantu petugas di lapangan, khususnya pada kawasan yang membutuhkan tambahan sumber air.

“Kami siap mendukung penanganan karhutla salah satunya dengan penggalian embung,” kata Mentana.

Kepala UPTD Pemeliharaan Jalan, Drainase dan Pertamanan Dinas SDABMBKPRKP Kotim, Suhardiyono, menjelaskan sedikitnya terdapat 12 lokasi yang direncanakan untuk pengerjaan secara bertahap.

Lokasi tersebut tersebar di sejumlah titik, antara lain Jalan Tjilik Riwut Kilometer 9 dan 10, Jalan Jaksa Agung sisi kiri dan kanan, serta beberapa titik di Jalan Lingkar Utara.

Pengerjaan juga mencakup kawasan Pesantren Al Marhamah, tikungan setelah gardu induk, ujung Jalan Bumi Raya, sekitar muara Jalan Bumi Raya, Jalan Lingkar Selatan dekat Perumahan Bundaran Balanga, sekitar Kantor Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, hingga Jalan Bawi Jahawen.

Namun, pengerjaan di lapangan tidak seluruhnya berjalan mudah.

Di Jalan Bawi Jahawen, simpang Jalan Pelita Barat, misalnya, pengerukan parit untuk embung darurat telah dilakukan sekitar delapan meter. Pekerjaan kemudian menghadapi kendala karena lumpur kembali memenuhi saluran sehingga pengerukan tidak dapat langsung dilanjutkan.

Kondisi ini menunjukkan bahwa penambahan sumber air untuk menghadapi karhutla tidak hanya bergantung pada ketersediaan alat berat, tetapi juga kondisi tanah, aliran air dan karakteristik kawasan yang dikerjakan.

Bukan Hanya Embung, Sekat Bakar Juga Dibangun

Upaya pengendalian karhutla di Kotim kini juga diarahkan pada pembatasan pergerakan api.

Sebelumnya, Pemkab Kotim telah mengerahkan ekskavator untuk membuat sekat bakar di Jalan Tjilik Riwut Kilometer 8, kawasan yang berulang kali menghadapi kebakaran.

Terbaru pada 1 September 2026, dua ekskavator kembali dikerahkan untuk membuat kanal dan sekat bakar di kawasan Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP) Bandara Haji Asan Sampit. Langkah ini dilakukan untuk membuka akses petugas sekaligus mencegah api meluas menuju kawasan vital penerbangan.

Strategi tersebut menjadi semakin penting karena persoalan keterbatasan sumber air sebelumnya disebut sebagai salah satu kendala utama dalam operasi pemadaman karhutla di Kotim.

451 Kejadian, Lebih dari 1.460 Hektare Terbakar

Besarnya upaya yang dikerahkan pemerintah daerah tidak lepas dari kondisi karhutla Kotim yang masih serius.

Berdasarkan data BPBD Kotim hingga 23 Agustus 2026, tercatat 451 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar lebih dari 1.460 hektare. Kecamatan Seranau menjadi salah satu wilayah dengan luasan terbakar terbesar, sementara Mentawa Baru Ketapang mencatat jumlah kejadian terbanyak.

Karena ancaman belum mereda, Pemkab Kotim memperpanjang status tanggap darurat karhutla dan kekeringan dari 27 Agustus hingga 15 September 2026. Pemerintah juga menyatakan evaluasi akan terus dilakukan berdasarkan perkembangan kebakaran dan kondisi cuaca.

Dengan kondisi tersebut, penggalian embung, pengerukan parit, penyediaan sumber air hingga pembangunan sekat bakar menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk menghadapi karhutla yang masih mengancam sejumlah wilayah Kotim.

Pertanyaannya, apakah 12 titik embung yang disiapkan ini akan cukup menghadapi ancaman karhutla jika sumber air di lapangan terus terbatas?

Pos terkait