Kaltengpedia.com – PALANGKA RAYA – Lahan terbakar Kalteng masih menjadi perhatian pemerintah dan masyarakat di tengah musim kemarau. Sejumlah wilayah menghadapi risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), dengan Kapuas mencatat luasan lahan terbakar terbesar. Sementara itu, Katingan menjadi daerah dengan jumlah titik panas atau hotspot terbanyak.
Data tersebut menunjukkan ancaman karhutla masih perlu mendapat perhatian serius. Kondisi cuaca kering membuat vegetasi dan lahan lebih mudah terbakar. Karena itu, pemerintah terus memperkuat pemantauan titik panas serta kesiapan personel untuk menangani kebakaran di berbagai daerah.
Kapuas menjadi salah satu wilayah dengan dampak kebakaran paling luas. Luasan tersebut menjadi perhatian karena kebakaran di kawasan gambut dapat berkembang dengan cepat dan sulit dipadamkan. Api juga dapat merambat di bawah permukaan tanah dan kembali muncul meski kobaran di permukaan telah berhasil dipadamkan.
Di sisi lain, Katingan mencatat jumlah hotspot yang tinggi. Titik panas menjadi salah satu indikator awal yang digunakan untuk mendeteksi potensi kebakaran. Namun, keberadaan hotspot tidak selalu berarti terjadi kebakaran. Petugas tetap perlu melakukan pengecekan lapangan untuk memastikan kondisi sebenarnya.
Lahan terbakar Kalteng juga membawa dampak terhadap kualitas udara. Asap dari kebakaran dapat mengganggu aktivitas masyarakat dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan. Pemerintah daerah karena itu perlu menjalankan penanganan secara bersamaan, mulai dari pemadaman hingga perlindungan kesehatan masyarakat.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah telah menetapkan status tanggap darurat karhutla. Status tersebut berlaku sejak 31 Agustus hingga 29 September 2026. Pemerintah juga mengerahkan personel gabungan dan memperkuat koordinasi dengan pemerintah kabupaten dan kota.
Selain pemadaman, pencegahan menjadi bagian penting dalam mengendalikan lahan terbakar Kalteng. Masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan apabila menemukan titik api. Langkah cepat sangat diperlukan agar api tidak meluas dan menimbulkan dampak yang lebih besar.
Dengan kondisi cuaca yang masih berpotensi kering, kewaspadaan perlu terus dijaga. Pemerintah dan masyarakat harus bekerja bersama untuk menekan risiko karhutla, menjaga kualitas lingkungan, serta mengurangi dampak asap terhadap kehidupan warga.





















