Kaltengpedia – Palangka Raya – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi sebanyak 32 titik panas (hotspot) yang tersebar di sejumlah wilayah di Provinsi Kalimantan Tengah pada Sabtu (27/6/2026). Munculnya puluhan hotspot tersebut menjadi sinyal meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seiring dominasi cuaca cerah dan suhu udara yang cukup tinggi.
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Palangka Raya, Renianata, menyebutkan bahwa titik panas terbanyak terpantau di Kabupaten Kapuas dan Lamandau, masing-masing delapan titik. Selanjutnya terdapat enam titik di Kabupaten Gunung Mas, tiga titik di Kabupaten Kotawaringin Barat, tiga titik di Kabupaten Kotawaringin Timur, dua titik di Kabupaten Barito Utara, serta masing-masing satu titik di Kabupaten Katingan dan satu wilayah lainnya yang terpantau dalam pemutakhiran data BMKG.
Selain mendeteksi hotspot, BMKG memprakirakan sebagian besar wilayah Kalimantan Tengah masih didominasi cuaca cerah hingga cerah berawan dengan suhu udara berkisar antara 23 hingga 34 derajat Celsius. Kelembapan udara berada pada kisaran 50 hingga 100 persen, sedangkan kecepatan angin diperkirakan mencapai 5–25 kilometer per jam dari arah timur hingga selatan. Kondisi tersebut dinilai cukup mendukung meningkatnya risiko kebakaran lahan apabila tidak diantisipasi sejak dini.
Meski demikian, BMKG juga mengingatkan masih terdapat peluang hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang di beberapa wilayah, terutama Kabupaten Sukamara, sebagian wilayah Seruyan, dan bagian utara Kabupaten Katingan. Masyarakat di daerah tersebut diimbau tetap mewaspadai potensi cuaca ekstrem.
Meningkatnya jumlah hotspot menjadi perhatian berbagai pihak mengingat Kalimantan Tengah merupakan salah satu daerah yang memiliki tingkat kerawanan karhutla cukup tinggi setiap memasuki musim kemarau. Oleh karena itu, masyarakat diminta tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebakaran agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.
BMKG juga mengimbau masyarakat untuk terus memantau perkembangan informasi cuaca dan peringatan dini sebagai langkah antisipasi terhadap potensi bencana hidrometeorologi maupun kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau berlangsung.






















