kaltengpedia.com – Di tengah polemik permintaan agar dirinya mundur dari jabatan, Menteri Kehutanan Republik Indonesia Raja Juli Antoni justru menunjukkan kesibukannya di lapangan. Ia melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, untuk meresmikan fasilitas Rehabilitasi Owa dan Pusat Suaka Owa (Owa Sanctuary Center) yang dikelola Yayasan Kalaweit Indonesia.
Peresmian berlangsung di Dusun Pararawen, Kecamatan Teweh Tengah, Jumat (5/11/2025). Dalam sambutannya, Raja Juli menegaskan komitmen pemerintah terhadap pelestarian satwa dan perlindungan hutan.
“Perlindungan owa dan hutan adalah tanggung jawab kita bersama. Kami akan terus mendukung upaya pelestarian lingkungan dan pengelolaan hutan berkelanjutan di Barito Utara,” tegasnya.
Didampingi rombongan Kemenhut, Raja Juli berdialog dengan Wakil Bupati Barito Utara Felix Sonadie Y Tingan, Sekda, serta tim Yayasan Kalaweit Indonesia. Diskusi berfokus pada strategi konkret konservasi dan peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga hutan.
Ketua Yayasan Kalaweit Indonesia, Chanee Kalaweit, menyampaikan apresiasi mendalam atas dukungan Menhut.
“Kami berkomitmen terus bekerja sama dengan pemerintah dan masyarakat untuk melindungi owa dan habitat alaminya,” ujarnya.
Wakil Bupati Felix Sonadie juga menegaskan kesiapan daerah menjaga kekayaan alamnya.
“Barito Utara memiliki kekayaan alam luar biasa termasuk satwa owa yang terancam punah. Kami siap bersinergi dengan pusat dan organisasi lingkungan,” katanya.
Puncak kegiatan ditandai dengan penandatanganan prasasti peresmian Pusat Suaka Owa, dilanjutkan tracking Menhut meninjau kandang rehabilitasi dan fasilitas Kalaweit.
Kunjungan ini diharapkan menjadi momentum penting untuk menguatkan komitmen perlindungan lingkungan dan pengelolaan hutan berkelanjutan di Barito Utara.
Usai kunjungan, perhatian publik tetap tertuju pada polemik permintaan agar Raja Juli mundur terkait penanganan banjir Sumatera. Dalam rapat dengan Komisi IV DPR RI sehari sebelumnya, Raja Juli menyatakan siap dievaluasi oleh Presiden.
“Kekuasaan itu milik Allah. Itu hak prerogatif presiden. Jadi, saya siap dievaluasi,” ujarnya di Senayan, Kamis (4/12/2025).
Ia juga menegaskan tidak pernah menghapus komentar netizen di media sosialnya.
“Saya nggak pernah hapus. Itu aspirasi, kemarahan, harapan. Tanggung jawab saya bekerja semaksimal mungkin,” jelasnya.
Dalam rapat itu, Anggota Komisi IV DPR Rahmat Saleh menyinggung bahwa mundur bukanlah hal tabu. Ia mencontohkan dua menteri di Filipina yang mengundurkan diri karena dianggap tak mampu menangani banjir.






















