kaltengpedia.com – Kinerja perdagangan luar negeri Kalimantan Tengah menunjukkan tren positif sepanjang semester pertama 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Kalteng mencatat nilai ekspor provinsi ini mencapai US$1.881,35 juta sepanjang Januari-Juni 2026. Angka tersebut meningkat US$180,37 juta atau 10,60 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang berada di angka US$1.700,98 juta.
Kepala BPS Kalteng, Toto Haryanto, mengatakan peningkatan tersebut menunjukkan aktivitas ekspor Kalteng masih memiliki daya tahan di tengah dinamika perdagangan global.
“Ekspor Kalteng pada Januari-Juni 2026 mengalami peningkatan sebesar 180,37 juta Dolar AS atau naik 10,60 persen dibanding periode yang sama tahun 2025,” kata Toto di Palangka Raya, Selasa.
Struktur ekspor Kalteng masih didominasi sektor pertambangan. BPS mencatat nilai ekspor komoditas hasil tambang mencapai US$1.319,12 juta, dengan kontribusi sebesar 70,12 persen terhadap keseluruhan nilai ekspor provinsi.
Dibandingkan Januari-Juni 2025, ekspor hasil tambang meningkat US$69,45 juta atau sekitar 5,56 persen, dari sebelumnya US$1.249,67 juta.
Batu bara masih menjadi salah satu komoditas utama ekspor sektor tersebut. Selain itu, komoditas tambang yang turut menopang ekspor Kalteng meliputi lignit, bijih zirconium, niobium dan tantalum, zirconium silikat, serta batu hias dan batu bangunan.
Di tengah dominasi sektor tambang, industri pengolahan justru mencatat pertumbuhan yang lebih tinggi secara persentase.
Nilai ekspor hasil industri pengolahan selama Januari-Juni 2026 mencapai US$551,11 juta, atau menyumbang 29,29 persen terhadap total ekspor Kalteng.
Nilai tersebut meningkat US$113,95 juta atau 26,07 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Sejumlah komoditas industri pengolahan yang menjadi andalan ekspor Kalteng antara lain minyak kelapa sawit, kayu olahan, karet remah, kayu lapis, serta bungkil dan residu.
Sementara itu, sektor pertanian masih memberikan kontribusi yang relatif kecil terhadap total ekspor. BPS mencatat nilai ekspor hasil pertanian pada periode Januari-Juni 2026 sebesar US$11,12 juta.
Komoditas yang diekspor dari sektor tersebut mencakup hasil hutan bukan kayu lainnya, getah karet dan sejenisnya, tanaman obat, aromatik dan rempah-rempah, tanaman hortikultura lainnya, serta ikan hidup hasil budi daya.
Data tersebut menunjukkan struktur ekspor Kalteng masih sangat bergantung pada komoditas pertambangan. Namun, pertumbuhan ekspor industri pengolahan yang mencapai lebih dari 26 persen menjadi sinyal adanya peningkatan kontribusi sektor bernilai tambah.
Kinerja perdagangan sepanjang semester pertama 2026 sekaligus memperlihatkan bahwa ekspor menjadi salah satu sektor penting dalam menopang aktivitas ekonomi Kalimantan Tengah.





















