Fairid Naparin diduga Lobi ke Jakarta, Musda Golkar Kalteng Ditunda: Dapat Restu Bahlil atau Justru Sia-Sia?

Dok : Deepsek ai

kaltengpedia.com – Penundaan Musyawarah Daerah (Musda) XI Partai Golkar Kalimantan Tengah yang semula dijadwalkan pada 3 Agustus 2025 menyisakan tanda tanya besar. Pasalnya, di balik alasan teknis soal padatnya jadwal Ketua Umum Golkar, Bahlil Lahadalia, beredar dugaan bahwa penundaan ini erat kaitannya dengan manuver politik Wali Kota Palangka Raya, Fairid Naparin, yang disebut sedang melobi langsung ke DPP di Jakarta.

Informasi dari sumber internal kepada wartawan pada Kamis (31/07) menyebutkan, Saya menduga Fairid telah berada di Jakarta sejak Hari selasa  dengan tujuan utama melakukan komunikasi intensif ke lingkaran Ketua Umum Golkar, termasuk upaya bertemu langsung dengan Bahlil. Tujuannya diduga untuk mengamankan restu dan dukungan dalam pencalonannya sebagai Ketua DPD Partai Golkar Kalteng menggantikan H. Ruslan AS.

Namun, apakah upaya lobi ini membuahkan hasil atau justru berakhir sia-sia, hingga kini belum ada kejelasan. DPP Partai Golkar sendiri belum memberikan pernyataan resmi terkait siapa calon yang paling diunggulkan untuk memimpin partai berlambang pohon beringin di Bumi Tambun Bungai ini.

Bacaan Lainnya

Di sisi lain, Edy Pratowo, Wakil Gubernur Kalimantan Tengah, disebut-sebut semakin mendapatkan angin segar dari elite pusat. Beberapa kader senior bahkan menduga, penundaan Musda bukan hanya soal teknis, tapi juga bagian dari skenario untuk memberi waktu kepada DPP memfinalisasi arah dukungan terhadap Edy.

“Fairid mungkin sedang mencoba peruntungan ke Jakarta, tapi kita juga tahu Edy sudah lebih dulu punya jaringan kuat ke pusat. Bisa jadi ini semacam adu strategi lobi,” ujar salah satu kader senior Golkar Kalteng yang enggan disebutkan namanya, Minggu (29/07).

Spekulasi juga berkembang bahwa DPP sedang menakar mana kader yang paling siap secara elektoral menghadapi Pilkada 2030 dan Pileg 2029 apabila jadwal tidak berubah. Jika Fairid dianggap belum cukup kuat secara konsolidasi internal, lobi politiknya bisa dianggap terlalu dini, bahkan berisiko berujung tanpa restu.

Dengan dinamika yang semakin kompleks, para kader Golkar di Kalteng kini dihadapkan pada dua tokoh kuat: Fairid Naparin yang agresif bergerak, dan Edy Pratowo yang santai namun diyakini sudah mengantongi sinyal kuat dari pusat.

Musda boleh ditunda, tapi aroma persaingan antar elite Golkar Kalteng sudah tercium tajam. Kini publik tinggal menanti: Apakah Fairid berhasil membawa pulang restu Bahlil, atau justru Edy yang akan keluar sebagai pemenang diam-diam?

Pos terkait