ISPU PM2.5 Tembus 251, Karhutla Barsel Bakar 195,86 Hektare

Dok : Istimewa

kaltengpedia.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah, telah membakar 195,86 hektare lahan sepanjang periode 1 Januari hingga 21 Agustus 2026.

Berdasarkan laporan resmi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Barito Selatan pada Jumat (21/8/2026), tercatat sebanyak 79 kejadian karhutla yang tersebar di enam kecamatan.

Kecamatan Dusun Selatan menjadi wilayah dengan jumlah kejadian dan luasan terbakar terbesar. Sebanyak 46 kejadian tercatat di wilayah tersebut dengan luasan lahan yang terbakar mencapai 105,8 hektare.

Bacaan Lainnya

Selanjutnya, Kecamatan Dusun Utara mencatat enam kejadian dengan luasan terbakar 34 hektare. Kecamatan Karau Kuala terdapat sembilan kejadian dengan luas 17,86 hektare.

Sementara itu, Kecamatan Gunung Bintang Awai (GBA) mencatat dua kejadian dengan luasan terbakar 7,50 hektare. Kemudian Dusun Hilir mencatat enam kejadian dengan luasan 12,92 hektare, sedangkan Jenamas terdapat 10 kejadian dengan luas lahan terbakar 18,50 hektare.

Selain kejadian karhutla, BPBD juga mencatat 882 titik panas di wilayah Barito Selatan. Titik panas tersebut tersebar di Dusun Hilir sebanyak 332 titik, Jenamas 231 titik, Dusun Selatan 155 titik, Dusun Utara 69 titik, GBA 68 titik, dan Karau Kuala 27 titik.

Kondisi tersebut turut berdampak terhadap kualitas udara di wilayah Buntok dan sekitarnya. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Barito Selatan melaporkan nilai Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) untuk parameter PM2.5 mencapai 251.

Angka tersebut berada dalam kategori sangat tidak sehat, yang menunjukkan konsentrasi partikel halus PM2.5 di udara berada pada tingkat tinggi dan dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan bagi masyarakat.

Kepala DLH Barito Selatan Bilivson melalui Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup, Resty Teluni, mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kualitas udara memburuk.

Masyarakat yang memiliki keperluan mendesak dan harus beraktivitas di luar rumah juga diminta menggunakan masker sebagai upaya mengurangi paparan asap dan partikel udara.

“Himbauan kepada masyarakat agar mengurangi aktivitas di luar ruangan. Jika memang sangat perlu sekali, sebaiknya menggunakan masker,” pesannya.

Pemerintah daerah bersama unsur terkait terus melakukan upaya penanganan karhutla sekaligus mengantisipasi dampak kabut asap terhadap masyarakat. Kondisi kualitas udara juga menjadi perhatian karena paparan PM2.5 dalam konsentrasi tinggi dapat berdampak terhadap kesehatan, terutama bagi kelompok masyarakat yang rentan.

Pos terkait