kaltengpedia.com – Pemerintah Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, memusatkan operasi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tiga kecamatan yang dinilai memiliki risiko tinggi, yakni Teweh Selatan, Teweh Baru dan Teweh Tengah.
Bupati Barito Utara Shalahuddin mengatakan Kecamatan Montallat juga menjadi perhatian khusus, terutama dalam upaya pencegahan dan deteksi dini. Wilayah tersebut tercatat memiliki jumlah titik panas atau hotspot tertinggi.
“Sementara Kecamatan Montallat menjadi prioritas pencegahan dan deteksi dini karena memiliki jumlah hotspot tertinggi,” kata Shalahuddin di Palangka Raya, Kamis.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam rapat evaluasi pencegahan dan penanganan karhutla Provinsi Kalimantan Tengah bersama Gubernur Kalteng Agustiar Sabran.
Shalahuddin mengatakan penetapan wilayah prioritas terus diperbarui dengan mempertimbangkan perkembangan kejadian karhutla, jumlah hotspot, luasan lahan terbakar, kondisi cuaca serta situasi di lapangan.
Untuk memperkuat operasi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Barito Utara menyiagakan 150 personel. Kekuatan tersebut terdiri atas 80 personel Pusdalops dan Tim Reaksi Cepat (TRC), serta 70 personel cadangan.
Penanganan juga diperkuat 45 regu Masyarakat Peduli Api (MPA), tiga Desa Tangguh Bencana (Destana), serta unsur lintas sektor yang melibatkan TNI/Polri, Manggala Agni, pemadam kebakaran, Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) dan dunia usaha.
Dari sisi peralatan, BPBD Barito Utara menyiapkan 23 unit mobil tangki air, tujuh unit mobil rescue double cabin, satu unit mobil pikap, sepeda motor trail dan sejumlah peralatan pendukung pemadaman.
“Respons terhadap karhutla terus dilakukan melalui pemberian imbauan, pemadaman dini, patroli, operasi TRC, Pusdalops 24 jam selama tujuh hari serta koordinasi lintas sektor,” ujar Shalahuddin.
Menurut dia, penguatan pos lapangan dan sarana prasarana di wilayah prioritas menjadi kebutuhan mendesak untuk mempercepat respons ketika kebakaran terjadi.
Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat deteksi dini, mempercepat mobilisasi personel dan peralatan, sekaligus memperluas jangkauan penanganan selama masa Siaga Darurat Karhutla.
“Daerah siap melakukan penanganan karhutla. Namun penguatan pos lapangan dan koordinasi lintas sektor diperlukan untuk meningkatkan kecepatan, jangkauan dan efektivitas respons,” tegasnya.
Data hingga 31 Agustus 2026 menunjukkan tekanan karhutla di Barito Utara cukup tinggi. Tercatat 182 kejadian karhutla dengan total luasan lahan terbakar mencapai 124,19 hektare.
Sementara berdasarkan pemantauan hotspot, terdapat 405 titik panas di wilayah tersebut.
Barito Utara saat ini berstatus Siaga Darurat Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan. Status tersebut berlaku selama 60 hari, mulai 1 Agustus hingga 29 September 2026.
Pemkab Barito Utara juga telah menerbitkan Surat Edaran Nomor 100.3.4/1144/BPBD/VIII/2026 yang berisi instruksi larangan pembakaran hutan dan lahan di wilayah kabupaten tersebut.
Tekanan karhutla bahkan meningkat tajam sepanjang Agustus 2026. Dalam satu bulan tercatat 192 hotspot, 102 kejadian karhutla dan luasan lahan terbakar mencapai 50,16 hektare.
Angka tersebut menjadikan Agustus sebagai periode dengan tekanan karhutla tertinggi di Barito Utara sepanjang 2026.





















