Polda Kalteng Uji Cairan Pemadam Asal Jepang untuk Jinakkan Karhutla di Lahan Gambut

Dok. Istimewa

kaltengpedia.com – Polda Kalimantan Tengah mulai menguji penggunaan cairan pemadam api Shabondama asal Jepang sebagai alternatif dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di wilayah yang memiliki karakteristik gambut.

Personel Polda Kalteng AKBP Edia Suteja mengatakan, penggunaan cairan tersebut dikembangkan melalui kerja sama riset dengan Universitas Palangka Raya (UPR) dan Shabondama Soap Co., Ltd.

Menurutnya, Shabondama merupakan bahan pemadam berbasis busa sabun atau liquid foam yang dirancang untuk membantu meningkatkan efektivitas air ketika digunakan memadamkan api.

“Ini adalah solusi ideal bagi penanggulangan karhutla di lahan gambut. Dengan campuran cairan Shabondama, air dapat menghasilkan daya padam lebih maksimal dan cepat,” kata Edia di Palangka Raya, Kamis.

Ia menjelaskan, lahan gambut memiliki kondisi yang berbeda dengan lahan biasa. Api tidak hanya membakar permukaan, tetapi dapat merambat dan bertahan di dalam lapisan gambut sehingga membutuhkan metode pemadaman yang lebih efektif.

Karakter Shabondama dinilai dapat membantu air meresap lebih cepat ke material yang terbakar. Hal tersebut menjadi salah satu alasan cairan itu dikembangkan untuk mendukung operasi pemadaman karhutla di kawasan gambut.

Riset mengenai pemanfaatan cairan tersebut bersama UPR telah dilakukan sejak 2019. Dari penelitian dan sejumlah pengujian yang dilakukan, Shabondama disebut memiliki beberapa keunggulan dibandingkan metode pemadaman konvensional.

“Keunggulan dari formula ini adalah ramah lingkungan, cepat meresap dan dapat digunakan dalam berbagai kondisi, termasuk pada lahan gambut,” ujarnya.

Dalam penggunaannya, cairan Shabondama dicampurkan dengan air menggunakan takaran tertentu sebelum disemprotkan ke lokasi kebakaran.

Hasil pengujian di lapangan menunjukkan campuran tersebut mampu membantu proses pemadaman hingga api pada titik yang ditangani benar-benar padam.

“Alhamdulillah, dari hasil uji coba di lapangan, api pada titik yang dilakukan pemadaman bisa padam total,” ungkap Edia.

Meski hasil pengujian menunjukkan perkembangan positif, pemanfaatan Shabondama secara luas di Indonesia masih menghadapi sejumlah tahapan.

Saat ini cairan tersebut masih diproduksi di Jepang dan belum masuk tahap produksi massal di Indonesia. Ketersediaannya di dalam negeri masih terbatas berupa sampel yang digunakan untuk kepentingan penelitian serta pengujian.

Edia mengatakan, terdapat rencana untuk mengembangkan produksi Shabondama di Indonesia sehingga penggunaannya dapat diperluas apabila seluruh tahapan yang diperlukan telah diselesaikan.

“Untuk saat ini hanya tersedia contoh saja. Kalau sudah produksi massal, tentu bisa digunakan lebih luas,” tuturnya.

Rencana produksi di Indonesia masih menunggu penyelesaian proses perizinan dan penerbitan Standar Nasional Indonesia (SNI). Edia menyebut berbagai persyaratan dan prosedur yang diperlukan telah dipenuhi.

Adapun kepastian mengenai waktu penyelesaian proses standardisasi tersebut berada di bawah kewenangan Badan Standardisasi Nasional (BSN).

“Untuk kapan prosesnya selesai, BSN yang bisa menjawab, karena semua syarat dan prosedur sudah dipenuhi,” pungkas Edia.

Pos terkait