Barsel Dikepung 2.037 Hotspot, Alarm Karhutla Makin Keras

Dok. ISTIMEWA

kaltengpedia.com – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah, masih tergolong tinggi. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mencatat sebanyak 2.037 titik panas (hotspot) terdeteksi sepanjang Januari hingga Agustus 2026.

Data tersebut menunjukkan potensi kebakaran masih tersebar di sejumlah wilayah Barito Selatan. Tingginya jumlah hotspot menjadi peringatan bahwa kondisi lahan harus terus dipantau, terutama memasuki periode kemarau yang meningkatkan risiko muncul dan meluasnya kebakaran.

Dari total 2.037 hotspot, Kecamatan Dusun Hilir menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni mencapai 877 titik.

Selanjutnya, Kecamatan Dusun Selatan tercatat memiliki 478 hotspot, kemudian Jenamas sebanyak 357 titik. Sementara itu, Dusun Utara mencatat 121 hotspot, Gunung Bintang Awai sebanyak 108 titik, dan Karau Kuala sebanyak 96 titik.

Jika dilihat berdasarkan sebarannya, tiga kecamatan dengan jumlah hotspot tertinggi—Dusun Hilir, Dusun Selatan, dan Jenamas—menyumbang sebagian besar dari keseluruhan titik panas yang terdeteksi di Barito Selatan.

Kondisi tersebut menjadi tantangan serius dalam pengendalian karhutla. Hotspot memang tidak secara otomatis menunjukkan telah terjadi kebakaran, namun kemunculannya dapat menjadi indikator awal adanya potensi panas atau kebakaran yang perlu segera diverifikasi di lapangan.

Karena itu, pemantauan hotspot perlu diikuti dengan respons cepat. Patroli kawasan rawan, pengecekan lapangan, kesiapan personel dan peralatan pemadaman menjadi bagian penting untuk mencegah titik api berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.

Upaya pencegahan juga tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah dan petugas. Masyarakat diharapkan ikut menjaga lahan dengan tidak menggunakan api untuk membuka atau membersihkan kawasan.

Dengan tercatatnya 2.037 hotspot hanya dalam delapan bulan, kewaspadaan terhadap karhutla di Barito Selatan perlu terus diperkuat. Respons cepat terhadap setiap indikasi kebakaran menjadi kunci agar potensi api tidak berubah menjadi bencana yang lebih besar.

Pos terkait