Asap Kembali Kepung Kualakurun, Karhutla Tak Kunjung Jadi Pelajaran?

Dok. Istimewa

kaltengpedia.com – Kepulan asap kembali menyelimuti kawasan Kualakurun, Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah. Cuplikan kondisi di lapangan memperlihatkan asap yang menutup sejumlah kawasan, menjadi gambaran nyata bahwa ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih belum sepenuhnya lepas dari kehidupan masyarakat saat musim kemarau.

Kondisi ini kembali memunculkan pertanyaan serius: sampai kapan masyarakat harus berhadapan dengan asap setiap kali musim kemarau tiba?

Karhutla bukan sekadar persoalan lahan yang terbakar. Ketika asap mulai memenuhi permukiman dan ruas jalan, dampaknya langsung bersentuhan dengan aktivitas warga, jarak pandang, kualitas udara, hingga risiko gangguan kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan kelompok rentan.

Risiko kebakaran dapat meningkat ketika kondisi cuaca kering bertemu dengan lahan yang mudah terbakar. Aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar juga menjadi salah satu faktor yang selama ini kerap dikaitkan dengan kejadian karhutla. Namun, penyebab pasti kejadian di Kualakurun tetap membutuhkan penelusuran dan keterangan resmi dari pihak berwenang.

Yang menjadi persoalan, kejadian serupa terus berulang di berbagai wilayah Kalimantan ketika kemarau datang. Asap muncul, warga terdampak, petugas bergerak memadamkan api, lalu persoalan kembali muncul pada musim berikutnya.

Karena itu, penanganan karhutla tidak cukup berhenti pada pemadaman. Pengawasan titik rawan, pencegahan pembakaran, kesiapsiagaan personel dan peralatan, pengelolaan lahan rentan terbakar, hingga edukasi masyarakat harus berjalan jauh sebelum api membesar.

Kualakurun hari ini kembali menghadapi asap. Pertanyaannya bukan hanya siapa yang memadamkan api, tetapi seberapa serius pencegahan dilakukan agar masyarakat tidak terus-menerus menjadi pihak yang membayar dampak dari karhutla.

Karhutla bukan siklus tahunan yang harus dianggap biasa. Jika setiap kemarau persoalan yang sama kembali terjadi, maka yang perlu dipertanyakan bukan hanya apinya, tetapi juga efektivitas pencegahannya.

Pos terkait